CSRkita (16/7) – Nama lengkapnya adalah Diadian Makunimau. Perempuan yang mendidikasikan dirinya untuk menjadi perawat masyarakat pedalaman di Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur. Dari kecil beliau sudah bercita-cita menjadi seorang perawat, Diadian tidak hanya menunggu pasien di Puskesmas saja, beliau juga aktif menyambangi warga Desa di pedalaman dengan menaiki sepeda motornya.

Padahal untuk mencapai ke desa-desa terpencil bukan hal yang mudah. Beberapa desa bahkan berada di pegunungan dengan kondisi tanah yang sulit di jangkau terutama saat musim hujan. Misalnya saja desa Lona untuk menuju ke desa tersebut Diadian harus bersusah payah meniti jalan berbatu dan terus menanjak dengan sepeda motornya, karena desanya berada diatas bukit.

Terkadang Diadian juga melakukannya bersama temannya, dan jika medan yang dituju terlalu sulit ditempuh dia akan meminta bantuan mobil puskesmas keliling. Perjalanan yang harus dilaluinya pun kadang membutuhkan waktu berjam-jam, bahkan pernah suatu kali perempuan dengan tinggi 160 cm itu harus menginap di tengah hutan dengan mendirikan tenda untuk tempat beristirahat nya. Diadian seringkali melakukan kunjungan rutin minimal sebulan sekali, terutama jika desa tersebut memiliki masalah kesehatan yang parah, seperti demam berdarah, mutah berak, dan gizi buruk.

Mengutip Liputan6.com (21/5/2017) biasanya saat melakukan pemeriksaan kesehatan keliling, dia akan menggunakan pengeras suara untuk memanggil warga desa untuk berkumpul di balai desa. Sayangnya terkadang tidak semua warga bisa mengunjungi balai desa. Kontur wilayah desa yang cenderung berbukit, membuat warga desa yang sakit tidak bisa datang ke posko kesehatan dadakan tersebut. Maka mau tidak mau Diadian harus menjemput bola, mendatangi pasien itu dengan berjalan kaki.

Pernah pula Diadia berjalan kaki dari Desa Alatas ke Desa Ilemang medan yang ditempuh sangat sulit, pada saat pulang ke rumah justru dia yang sakit. Tidak jarang pula tim kesehatan mengalami bengkak kaki karena harus berjalan jauh dan medan yang dilewati nya tidak mudah. Kadang-kadang mereka sampai didorong teman nya.

Dilansir dari Presreaders.com (7/12/2016), meskipun bekerja di wilayah yang luas dan sulit dijangkau, nyatanya tidak membuat Perempuan berusia 37 tahun itu menyerah. Malah semangatnya selalu membara, setiap kali Diadan pergi ke lapangan, dia akan mencatat secara rinci kondisi kesehatan masyarakat dan keadaan geografisnya, sebab itu akan memudahkan dia jika ingin berkunjung kembali ke daerah tersebut.

Pada setiap kunjungannya, Diadian selalu mengajarkan hidup sehat seperti mencuci tangan sebelum makan, mencuci buah/sayuran sebelum dikonsumsi/dimasak, tidak buang hajat sembarangan. Diadian pun mencatat nomor telepon warga, kepala desa, ketua PKK desa, dan beberapa tokoh masyarakat setempat agar dia tetap bisa mengawasi kondisi kesehatan warga.

Diadian pertama kali ditempatkan di Puskesmas Bukapiting pada tahun 2013 dengan status pegawai negeri sipil (CPNS). Berada di Kecamatan Alor Timur, Puskesmas Bukapiting merupakan salah satu dari 24 Puskesmas di Kabupaten Alor. Wilayahnya meilputi delapan desa dengan jumlah penduduk 10.598 jiwa.

Diadian tertarik pada dunia perawatan sejak usia 5 tahun, dia melihat seorang perawat yang datang merawat anggota keluarga nya yang sakit di Kalabahi, Alor. Perawat itu menarik perhatiannya karena ramah, sopan dan murah tersenyum. Sejak saat itu dia ingin menjadi perawat, setelah lulus SMA, Diadian melanjutkan pendidikan nya ke Politeknik Kesehatan Kupang dan lulus pada tahun 2012.

Saat menjadi perawat PTT di Puskesmas Kabir, Pulau Pantar yang berwaktu tempuh 4 jam dari Kabalahi, Diadian pun mengabdi total. Setahun setelah bertugas disana, banyak pengalaman yang dia dapatkan. Pengalamannya itu semakin ingin membuat dia mengabdi pada Pulau Alor. Berada dipedalaman dengan akses yang sulit tidak menyurutkan semangat dia untuk tetap mengabdi walaupun dia tidak mendapatkan bayaran untuk itu.

Sumber : www.inibaru.id