Tahukah Anda, dibalik Surat Tawaran Damai dari Jusuf Kalla yang dikirim ke Panglima GAM Muzakkir Manaf pada tahun 2004 lalu, ada sosok penting dan juru kunci atas surat tersebut. Ibrahim namanya waktu itu. Bagaimana kondisi di lapangan dan peliknya perjalanan surat tersebut, tulisan saya dibawah ini berusaha kembali untuk mengingatkan kita semua, sembari mengajak kita untuk sama-sama mengenang peristiwa demi peristiwa di waktu itu.

Suatu hari, tepatnya pada pertengahan Juli 2004 saya menerima seorang utusan dari Panglima GAM, Muzakkir Manaf. Menurut sang utusan tersebut, Muzakkir Manaf yang akrab kami sebut dengan Mualim itu tengah berada pada posisi yang terjepit di sekitar Aceh Utara. Saya yang saat itu tengah bersama dua orang pasukan, yakni Muhammad Gerhana dan Ungel segera bergegas untuk membantu Mualim. Sayangnya saat berada di daerah Bintang, kami dikepung. Muhammad Gerhana gugur syahid saat itu, dan TNI berhasil menyita satu pucuk senjata double luv. Akibat dari pengepungan itu saya berpisah dengan Ungel. Perlahan, saya bergeser kembali ke Pasir Putih, Kec. Syiah Utama, kabupaten Bener Meriah.

Setelah sebulan di hutan belantara seorang diri, baru Pada 22 Agustus 2004 saya berjumpa dengan pasukan Wilayah Linge, namun sedang asyik bercanda sambil sedikit pesta makam malam, kami diberondong kembali oleh pasukan TNI yang menyebabkan tiga orang pasukan saya Syahid; Gele Bayak (Biro Penerangan), Sulaila (Pasukan Srikandi) dan Aman Nanang tertembak di hadapan saya. Pasukan yang masih selamat lari menyelamatkan diri ke dalam hutan. Saya sendiri dengan dipandu seorang kawan masih sempat mengambil kain sarung, buku catatan, dan sandal sebelum juga lari menyelamatkan diri masuk hutan belantara.

Saya jemput pasukan Mualim bersama 16 orang, diantaranya; Husaini Prangko, Ayah Man, Ayah Ija Krung, Petrus (Fadli Abdullah) dan beberapa pasukan lagi. Dari perbatasan kami bawa Mualim ke Bukit Rebol dan di tempat tersebut kami bisa bertahan lebih kurang selama 4 bulan bersama pasukan Linge.

Pada suatu hari di bulan Desember, seorang pasukan tertangkap. Lantas aparat keamanan mengetahui keberadaan Mualim bersama saya. Terjadilah pengepungan besar-besaran di daerah Rebol saat itu. Kami dibom dengan meriam kodok dan pesawat Bronco. Melihat situasi yang tidak mungkin bertahan lama lagi, kami meminta bantuan kepada Syaiful Cage untuk menyelamatkan Mualim ke wilayah yang lebih aman. Sepanjang perjalanan kami dikepung pasukan TNI, dari darat maupun udara. Seingat saya, saat masa itulah terakhir kalinya pasukan TNI menggunakan pesawat dalam menyerang GAM.

Setibanya di Hutan Matang Gelumpang Dua dan Krueng Mane, Kabupaten Bireuen, kami menyerahkan Mualim kepada pasukan Syaiful Cage. Saat itu, Saya sendiri belum bisa kembali ke Bener Meriah karena operasi pagar betis  TNI belum berakhir dan terpaksa kami berputar-putar di kawasan hutan di Kawasan Bateileek.

Di saat yang bersamaan, kami mencari “wilayah berdaulat” di daerah Alue Gatai yang terletak antara Krueng Mane dan Matang Geukumpang Dua. Kami menganggap Alue Gatai merupakan sebuah daerah yang betul-betul “keramat”. Meski luasnya 100 meter persegi, tetapi tidak pernah terjadi kontak senjata di sana. Padahal tempat tersebut beberapa kali di kepung, namun TNI tidak pernah sampai ke sana.

Pada Desember 2004, kami berada di sana dalam keadaan kekeringan tanpa setetes air. Namun, Allahu Akbar.. Setelah gempa besar mengguncang Aceh yang kemudian diikuti dengan gelombang tsunami, air mengalir dengan derasnya. Pasukan Linge saat itu dalam posisi terkepung. Namun karena tsunami, pasukan TNI kembali ke markas masing-masing, dan tidak pernah bisa menembus wilayah Alue Gatai.

Di wilayah Alue Gatai inilah saya dihubungi oleh seseorang bernama Ibrahim, tepatnya pada Bulan Februari 2005. Beliau mengaku sebagai seorang pengusaha asal Jakarta yang sedang mengerjakan proyek rehabilitasi pasca Tsunami Aceh. Saat itu saya percaya saja dengan beliau, karena selain bahasanya yang sangat halus dan berhubungan dengan saya tidak dalam perkara perjuangan GAM. Beliau selalu menanyakan kabar saya, Ibu dan keluarga saya. Bahkan, tidak jarang Ibrahim juga mengirim pulsa dan juga pernah menawarkan logistik seperti beras dan obat-obatan. Dalam benak saya waktu itu, beliau adalah orang Aceh yang peduli dengan perjuangan GAM.

Ibu saya yang bernama Rusmawati adalah Kepala Sekolah Dasar di Simpang Bahgie, Kec. bandar, Bener Meriah. Saat itu ibu  saya terpaksa bolak balik dipanggil oleh Aparat Kodim 0106 Aceh Tengah karena menerima transfer dana dari salah seorang kepercayaan Muzakkir Manaf, sebanyak 20 juta rupiah, yang diteruskan kepada saya dan selanjutnya saya serahkan kepada Muzakkir Manaf. Pak Ibrahim hadir sebagai penolong bagi Ibu saya. Beliau berhasil membebaskan ibu saya dari wajib lapor tersebut.

Ternyata kehadiran Ibrahim tidak hanya sebagai penyelamat, tetapi juga untuk menyampaikan amanah, yakni sebuah surat yang ditujukan kepada Muzakkir Manaf. Menurutnya, surat tersebut berasal dari Jusuf Kalla. Saat itu muncul rasa cemas dan kekhawatiran dalam hati saya. Sebagaimana kekhawatiran pejuang GAM lainnya adalah dicap sebagai pengkhianat. Tidak sedikit pejuang GAM yang berhubungan dengan pihak Indonesia akhirnya diputuskan hubungannya dengan GAM di lapangan dan pimpinan GAM yang di luar negeri. Perang batin yang berkecamuk inilah yang membuat saya semakin khawatir.  Di satu sisi Pak Ibrahim telah membebaskan ibu saya dari wajib lapor kepada Kodim 0106 Aceh Tengah. Tentu saya harus berterima kasih kepada beliau karena jasanya tersebut. Namun di sisi lain, kalau saya menerima surat tersebut saya dianggap berhubungan dengan musuh, yang ujung-ujungnya dicap sebagai pengkhianat.

Jujur saja, saya berfikir ekstra keras pada waktu itu. Muncul beberapa pertanyaan dalam hati saya. Antara lain, apakah tawaran ini saya terima? Apa akibatnya kalau surat itu saya terima? Jangan-jangan nanti dicap pengkhianat karena Teungku Abdullah Syafi’i juga Syahid dikabarkan karena surat yang disampaikan Gubernur Abdullah Puteh disaat itu? Disaat kecemasan dan rasa khawatir yang mendalam itu, Ibrahim mengatakan, “Suratnya nanti saya titip sama Ibu di Takengon, ya!”. Sayapun tidak bisa berkata-kata kecuali menjawab, “iya Pak!”.

Untuk mengurangi rasa cemas dan khawatir, saya selalu berdiskusi dan berkonsultasi dengan Teungku Chalidin Gayo (Jangko Mara), selaku wakil Panglima GAM wilayah Linge. Secara rinci dan detail, apapun komunikasi saya dengan Ibrahim selalu saya sampaikan, termasuk perihal titipan surat dari Jusuf Kalla untuk Mualim. Bagaimana cara menyampaikan surat tersebut kepada Mualim juga menjadi sebuah diskusi yang cukup intens antara saya dan Jangko Mara. Dan, surat tersebut tiba di tangan saya pada bulan Maret, ketika saya berada di Alue Gatai.

Ada sebuah peraturan tidak tertulis di dalam GAM. Peraturan tersebut adalah pantang menanyakan posisi. Kami hanya boleh mengatakan, “kami berada di wilayah berdaulat, meski dalam keadaan terkepung”. Oleh karena itu saya tidak mungkin menanyakan posisi Mualim, dan tidak mungkin juga saya titip surat itu kepada orang lain, karena itu berbahaya.

Pada pertengahan April 2005, berlangsung perundingan GAM-RI putaran ketiga yang digagas oleh CMI pimpinan Mantan Presiden Finlandia, Marti Atasari. Di saat yang bersamaan, Saya dan Chalidin Gayo memegang naskah Tawaran Damai kepada pasukan GAM yang isinya 23 Point, antara lain memberikan aset Pemerintah Pusat kepada pasukan GAM, dan mendapatkan pekerjaan dan tabungan abadi.

Namun sebelum membacakan surat tersebut, kami mewanti-mewanti Mualim, kalau kami tidak ada niat untuk berkhianat dan mengatakan kepada Muallim: “Sebaik-baik musuh adalah musuh, Mualim”.  Lalu kami bacakan surat tersebut kepada Muallim sebanyak tiga lembar. Saya mengulang-ulang “nyoe haba musuh” (ini kata musuh), dan Muallim hanya menjawab, “Get” (iya).

Sampai dengan perjanjian damai antara GAM dan RI ditandatangani, saya tidak pernah berjumpa dengan Mualim. Namun komunikasi tetap intens karena menjelang perundingan di Helsinky banyak berita-berita “info mameh” dari luar yang harus disampaikan kepada pasukan. Surat itu sendiri saya sampaikan setelah damai pada pertemuan pembentukan organisasi transformasi dari GAM kepada KPA di Meureu, Aceh Besar pada Oktober 2005.

Sejak berpisah dengan Mualim pada Desember 2004 di wilayah Bateeilek, Saya bertemu kembali sepuluh bulan kemudian pada Oktober 2005.

Pada tanggal 20 Maret 2015 menjelang Ulang tahun Kopassus yang ke 63, saya dihubungi oleh seseorang yang mengingatkan saya, bahwa beliau pernah membantu ibu saya dari wajib lapor ke Kodim dan minta tolong menyampaikan Surat Tawaran Damai Pak JK kepada Muallim.

“Masih ingat saya?” Tanyanya sambil tertawa kecil.

“Pak Ibrahim” spontan saya jawab

Kini, pria bernama samaran Ibrahim tersebut menduduki jabatan sebagai Sekjend Wantanas (Sekretaris Jenderal Dewan Pertahanan Nasional), yang diketuai oleh Pak Jokowi. Letjend TNI Doni Monardo ini baru saja berulang tahun yang ke-55 tepat pada tanggal 10 Mei yang lalu.

Selamat Ulang Tahun Jenderal. Semoga Bapak terus selalu dalam keadaan sehat wal afiat, serta tetap dalam lindungan Yang Maha Kuasa. Sukses terus dalam karir dan pekerjaan Bapak, serta tetap menjadi teladan bagi bangsa ini, khususnya generasi muda Indonesia hari ini.

Apresiasi dan Terima kasih yang sedalam-dalamnya atas segala upaya yang Bapak lakukan dahulu guna mendamaikan konflik antara GAM dan Pemerintah RI. Semoga melalui surat ini, masyarakat Aceh yang sebelumnya tidak tahu atas peran dan upaya yang Bapak lakukan menjadi tahu siapa Bapak, serta bagaimana pelik dan rumitnya perjalanan surat damai yang dituliskan langsung oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla itu hingga sampai di Aceh. Setidaknya, diluar tokoh-tokoh yang selama selalu disebutkan namanya, hari ini masyarakat Aceh lebih terbuka lagi menerima sosok Pak Doni Monardo ini sebagai salah seorang yang berjasa atas Aceh.

Salam hormat kami untuk Bapak dan keluarga.

Terima kasih Jenderal

 

Ditulis oleh : Faudzan Adzima / Mantan Panglima GAM Wilayah Linge