Dunia politik sarat dengan banyak kepentingan. Ada kepentingan negara, kelompok, dan individu. Di luar itu ada kepentingan global, kepentingan bangsa-bangsa lain. Dunia politik menjadi perebutan berbagai kalangan karena ujungnya adalah kekuasaan. Muaranya adalah kesejahteraan, prestise, dan kehormatan. Dunia politik diperebutkan dengan banyak cara, dari cara terhormat hingga penuh tipu daya.

Di negeri ini politik adalah sarana untuk menguasai sebuah negara bernama Indonesia, wilayahnya luas dengan sumber daya alam kaya raya. Politik digunakan untuk berkuasa terhadap penduduknya yang berjumlah banyak dengan aneka budaya. Sebuah wilayah dengan daya tarik luar biasa. Sejarah menunjukkan, karena begitu menariknya wilayah ini banyak bangsa ingin menguasainya. Dari bangsa Eropa, Jepang, hingga kekaisaran Tiongkok pernah berupaya menjadikan wilayah ini menjadi kekuasaan mereka.

Negeri yang didirikan dengan banyak pengorbanan jiwa, penuh pertumpahan darah dalam setiap pergantian penguasanya. Dari zaman kolonial hingga merdeka, pergantian kekuasaan diiringi dengan pertikaian sesama bangsa. Belum lama bangsa ini menikmati pergantian kekuasaan tanpa silang sengketa, kini sudah ada gejala akan muncul lagi adu kekuatan sesama bangsa. Hanya untuk bisa berkuasa.

Pemilu yang baru saja terselenggara bukannya menjadi instrumen demokrasi untuk memperoleh kekuasaan secara terhormat, tetapi menjadi alasan bersengketa. Ada pihak melancarkan tipu daya. Menebarkan kebohongan untuk membalikkan fakta.  Media sosial bertebaran berita palsu atau hoax. Berita palsu yang didesain untuk memengaruhi masyarakat. Mereka yang tidak kritis dan selektif menerima informasi akan mempercayai berita-berita palsu itu sebagai kebenaran. Berita-berita palsu yang dipercaya sebagai kebenaran dapat mengakibatkan masyarakat marah. Jika mereka sudah marah, mereka mudah dikendalikarn dan diarahkan. Seperti robot yang dikendalikan dengan remote kontrol dari jarak jauh.

Keadaan masyarakat seperti itu bisa berujung pada kondisi anarki dan chaos. Setiap orang tidak lagi patuh pada peraturan, mereka bisa bertindak sendiri-sendiri membuat kekacauan. Sehingga bisa menimbulkan kerusakan dan kehancuran di mana-mana. Kehidupan masyarakat yang tenteram, rukun, dan damai bisa terancam. Berpolitik tanpa etika dan moral hanya akan menimbulkan kesengsaraan dan penderitaan sesama bangsa.

Kondisi masyarakat seperti itu menjadi perhatian dan keprihatinan seorang perwira polisi yang gemar melukis, Cryshnanda Dwi Laksana. Keadaan itu membuatnya resah dan gelisah. Sebagai seorang polisi tentu dia ingin masyarakat hidup rukun, tenteram, dan damai. Situasinya justru menjurus pada kondisi sebaliknya. Sebagai seorang pollisi dia melihat adanya bahaya tersembunyi yang berpotensi anarkhis dan chaos. Situasi yang sangat  membahayakan masyarakat.

Sebagai polisi yang gemar melukis, apa yang dilihat dan dirasakannya itu diekspresikan melalui warna, berupa lukisan. Dia menyatakkan, lukisannya mengekspresikan suatu kondisi seperti yang ditulis Plato dalam bukunya The Republik. Di dalam buku tersebut diuraikan masyarakat diibaratkan sebagai binatang besar, buas, dan liar. Kesenangannya makan, minum, dan seks.  Para pawang  pengendali binatang kaum sofis atau kaum politikus. Dia tahu cara mengendalikan binatang tersebut. Tahu memberi kesukaan atau kesenangannya. Tahu kapan mengalah saat binatang itu mengamuk dan tahu mengancam dan menakut-nakuti binatang tadi. Ibarat tersebut merupakan gambaran tentang masyarakat yang bisa dikendalikan oleh sekelompok orang.

Lukisan-lukisannya berupa komposisi warna, titik, garis, bidang yang dikreasikan secara spontan. Warna-warna dikuaskan, dicipratkan, dilelehkan, atau dituangkan mengikuti intuisinya. Hingga  tersusunlah warna, bidang, garis, titik, dan unsur-unsur rupa lainnya menjadi sebuah lukisan.  Terkadang lukisannya dibubuhi tulisan dalam bahasa Indonesia atau Jawa. Tulisan tentang pendapatnya, kesannya, filosofi, dan ajaran-ajaran bijak dari masyarakat Jawa. Tulisannya memiliki relevansi dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masyarakat. Metode melukis seperti itu sudah dilakukannya sejak beberapa dasawarsa lalu.