Halo kali ini CSRKITA akan mengulas tentang Pluralisme : Pengertian, Sejarah dan Contoh. Semoga artikel ini bermanfaat dan menambah wawasan.

Pengertian Pluralisme

Wacana tentang pluralisme terus berkembang seiring kemajuan zaman mengingat bahwa negara ini memiliki ribuan suku bangsa. Dilihat dari segi bahasa, pluralisme berasal dari kata “plural” dan “isme”. Plural yang berarti jamak atau lebih dari satu, sedangkan isme berarti sebuah paham. Pluralisme dapat diartikan sebagai sebuah paham yang meyakini kemajemukan alias keberagaman dalam kehidupan bermasyarakat. Keberagaman dalam hal ini bisa berupa banyak hal seperti keberagaman agama, suku, ras, bahasa, adat-istiadat, dan lain sebagainya.

Berbeda dengan makna keberagaman pada umumnya, pluralisme lebih sebagai sebuah paham atau ideologi yang terdapat dalam sebuah sistem. Dimana sistem tersebut secara tersistematis menerima keberagaman sebagai sesuatu yang bernilai positif. Sehingga keberagaman yang ada akan terus difasilitasi untuk saling memahami, alih-alih berusaha memusnahkan salah satu di antaranya.

Indonesia sebagai negara dengan keberagaman suku, ras, budaya, bahasa, agama, dan sebagainya perlu memahami makna pluralisme. Konsep “Bhineka Tunggal Ika” alias berbeda-beda tetap satu, merupakan landasan berwarga-negara. Keragaman ini tidak dimaksudkan bercampur-baurnya berbagai suku, ras, budaya, bahasa, agama dan sebagainya sehingga kehilangan jati diri. Melainkan lebih kepada saling menghormati, saling mendukung, dan saling mengkualitaskan diri masing-masing tanpa menjatuhkan yang lain.

Sejarah Munculnya Pluralisme

Pluralisme berawal pada masa pencerahan Eropa atau lebih dikenal dengan Enlightenment pada abad ke-18 Masehi. Sebelum pluralisme, pada saat itu paham yang berkembang adalah liberalisme. Yakni asas kebebasan pribadi dalam berusaha dan berekonomi tanpa campur tangan pemerintah. Liberalisme lahir atas konflik yang terjadi antara gereja dan kehidupan masyarakat di luar gereja.

Saat itu dimana dominasi gereja sangat kuat, sementara terdapat berbagai agama berbeda, sekte, kelompok, dan madzhab. Respon intoleransi religius ini kemudian menjadi tanggapan politik yang menolak gereja. Hal tersebut kemudian liberalisme politik melahirkan paham pluralisme sebagai landasan teoritis dalam teologi Kristen untuk berinteraksi baik dengan agama, sekte, dan madzhab lain.

Sementara dalam agama Islam, pluralisme sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw. Piagam Madinah menjadi tanda keberadaan pluralisme karena saat itu kota Madinah merupakan tempat yang plural dengan agama Islam minoritas. Dengan adanya piagam tersebut, keberadaan agama Islam sebagai minoritas terjamin keamanannya bersama dengan keberagaman seluruh penghuni Madinah.

Pluralisme Menurut Para Ahli

Para ahli telah mendefinisikan makna pluralisme yang beragam, pendefinisian pluralisme yang dikemukakan para ahli di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. An-Na’im: Ia menyandingkan pluralisme dengan keragaman yang berarti perbedaan dalam hal agama, etnik, sistem nilai, sikap, dan proses yang menjadikannya sebuah kohesi sosial yang berkelanjutan.
  2. Anton M. Moeliono: Pluralisme adalah suatu perkara yang bermakna jamak dilihat dari sisi keberagaman dan perbedaan budaya dalam suatu masyarakat. Sikap saling menghormati dan menghargai antar kebudayaan yang berbeda menjadi landasan pluralisme.
  3. Syamsul Maa’arif: Sikap saling memahami serta saling menghormati dalam setiap perbedaan demi menciptakan suatu kerukunan dalam kehidupan antarumat beragama.
  4. Abdurrahman Wahid: Pluralisme dalam bertindak dan berfikir akan melahirkan toleransi dimana toleransi tidak bergantung pada pendidikan atau apaun.
  5. Alwi Shihab: Pengertian pluralisme dapat disimpulkan menjadi empat, yakni pluralisme tidak hanya menuju pada kemajemukan. Kedua, pluralisme tidak dapat disamakan dengan kosmopolitanisme, ketiga, konsep pluralisme berbeda dengan relaivisme dan terakhir, pluralisme agama bukanlah sinkretisme.
  6. Shofan: Pluralisme merupakan sebuah paya dalam membangun kesadaran normatif teologis sekaligus kesadaran sosial.

Jenis-jenis Pluralisme

Pluralisme dapat mencakup banyak hal dalam kehidupan bermasyarakar, beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

Pluralisme Agama

Pancasila mengakui adanya keberagaman agama di Indonesia, yakni agama Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Cu. Agama-agama tersebut hendaknya dapat hidup berdampingan dan saling menghargai satu sama lain. Dalam pluralisme agama penting untuk menanamkan sifat toleransi dalam setiap individu. Hal ini dilakukan agar terdapat tenggang rasa antarumat beragama dan tidak menciptakan konflik.

Pluralisme Ras dan Budaya

Di dalam suatu wilayah yang modern seperti saat ini, banyak ditemui berbagai kelompok dengan budaya berbeda tinggal dalam satu wilayah. Jiwa rasialisme yang tinggi dapat menimbulakn pertentangan antar budaya tersebut karena saling mengagungkan ras dan kebudayaan masing-masing. Sementara budaya berbeda akan dianggap lebi rendah dan tidak memiliki kebaikan. Dalam pluralisme ras dan budaya sangat penting untuk menekan sifat rasis seseorang dan meyakini bahwa setiap ras dan budaya meiliki keunggulannya tersendiri. Sehingga harus saling menghargai satu sama lain.

Pluralisme Media

Perkembangan teknologi yang begitu pesat menjadikan media, terutama media massa dan media sosial menjadi sangat beragam. Menilai rendah suatu media dan membanggakan media yang lain sehingga menimbulkan kebencian, merupakan hal yang tidak baik dilakukan. Setiap media memiliki niali positif dan negatif dimana seseorang harus pandai memilah dan memilih media tanpa harus menjelekkannya.

Pluralisme Ilmu Pengetahuan

Proses belajar yang berbeda-beda menyebabkan seseorang memiliki tingkat dan jangkauan ilmu pengetahuan yang berbeda pula. Keberagaman ilmu pengetahuan ini hendaklah menjadi diskursus baru antar sesama intelektual untuk saling menambah wawasan. Perbedaan pendapat dalam memahami suatu persoalan berdasarkan tingkat ilmu pengetahuannya bukan dijadikan sebagai ajang konflik melainkan sebagai pengetahuan yang baru lagi.

Pluralisme Sosial

Interaksi sosial di antara masyarakat tidak dapat dihindarkan karena manusia sebagai makhluk sosial. Dalam interaksi sosial sehari-hari tersebutlah perlu adanya sikap saling menghargai, saling menghormati, dan saling mengerti antara satu dengan yang lain. Apabila sikap saling menghargai ini tercipta dalam sebuah lingkungan sosial, maka tidak akan terjadi konflik di dalamnya.

Pluralisme Kelompok

Keragaman kelompok-kelompok di Indonesia yang memiliki lanndasan ideologi berbeda-beda memerlukan sikap saling menghargai yang tinggi. Merasa bahwa satu kelompok lebih benar sementara kelompok lain salah adalah hal yang harus dihindari. Setiap kelompok memiliki tujuannya masing-masing dan berhak bergerak sesuai tujuan tersebut.

Dampak Positif dan Negatif Pluralisme

Pluralisme juga memiliki dampak positif dan negatif yang perlu kita ketahui, di antaranya adalah sebagai berikut:

Dampak Positif Pluralisme

  1. Menciptakan kehidupan yang beragam.
  2. Menghindarkan konflik antar masyarakat.
  3. Membentuk civil society.
  4. Memberikan ruang belajar agar dapat memahami kebudayaan lain.
  5. Memperluas wawasan dan pengalaman tentang suatu perbedaan.
  6. Pemaksimalan potensi setiap suku dan kelompok.

Dampak Negatif Pluralisme

  1. Menimbulkan pola persaingan yang tidak disadari.
  2. Rawan terjadi konflik di kalangan masyarakat plural yang tinggal di satu wilayah.
  3. Munculnya rasa egois dalam diri kelompok masyarakat yang berbeda.
  4. Muncul kecurigaan antar masyarakat yang berbeda
  5. Timbul sikap fanatik terhadap budaya, etnis, atau kelompok masing-masing.
  6. Etnosentris; meremehkan budaya lain.

Contoh Pluralisme

  1. Turut andil dalam kegiatan kemasyarakatan seperti gotong-royong membersihkan jalan desa, pos kamling, atau kegiatan keagamaan yang sesuai.
  2. Tidak mencemooh orang lain yang memiliki pandangan berbeda dengan kita.
  3. Tidak mengolok-olok orang lain yang memiliki warna kulit atau warna rambut yang berbeda (ras).
  4. Membantu orang lain yang mengalami kesulitan tanpa memandang latar belakang sosial, agama, ekonomi, dan lain sebagainya.
  5. Menghormati adat-istiadat suku lain meski berbeda dengan kebiasaan kita atau cenderung bertentangan.
  6. Berbicara dengan nada sopan kepada siapa saja.
  7. Tidak memaksakan kehendak dan keyakinan kepada orang lain agar selaras dengan kita.
  8. Tidak mengucilkan orang-orang yang memiliki perbedaan dalam segi apapun.
  9. Tidak menimbulkan kericuhan yang mengganggu ketenangan sekitar.
  10. Saling menghormati keputusan.
  11. Bersikap ramah terhadap siapa saja meskipun memiliki perbedaan dengan kita.
  12. Mengikuti kegiatan organisasi di masyarakat agar lebih mengenal lingkungan dan warganya dengan baik.
  13. Menjaga hubungan baik dengan tetangga, teman, dan orang-orang di sekitar.
  14. Melakukan interaksi sesering mungkin agar tidak terjadi kesalah-pahaman antar tetangga.
  15. Memohon izin setiap kali akan mengadakan agenda yang melibatkan fasilitas umum.
  16. Tidak egois saat melakukan kegiatan kelompok atau budaya.

Penjelasan mengenai pluralisme terutama yang berakaitan dengan warga negara Indonesia dan kehidupannya ini semoga menjadi tambahan pengetahuan. Wacana mengenai pluralisme memang perlu terus dibangun dan disebarluaskan mengingat semakin beragamnya kehidupan di Indonesia. Demi menghindari konflik dan menciptakan kehidupan bermasyarakat yang tenteram dan damai, sehingga Indonesia menjadi lebih baik. Selanjutnya tulisan ini semoga menjadi referensi yang sesuai dengan pencarian pembaca mengenai ‘pluralisme’. Terima kasih dan semoga bermanfaat.