Salah satu yang sangat penting untuk diperhatikan dalam dunia bisnis atau usaha adalah bagaimana penyusunan bujet. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bujet adalah anggaran belanja yang berisi tentang anggaran pengeluaran dan anggaran pemasukkan. Bisa juga didefinsikan sebagai rencana anggaran terperinci sebagai pedoman untuk menjalankan operasi pada masa akan datang dan juga digunakan sebagai dasar melakukan penilaian atas pelaksanaan.

Menurut Nafarin, bujet merupakan rencana tertulis mengenai kegiatan suatu organisasi yang dinyatakan secara kuantitatif dan umumnya dinyatakan dengan satuan uang untuk jangka waktu tertentu. Sedangkan menurut Suharman (2006:76), bujet pada dasarnya merupakan alat yang dipergunakan dalam suatu organisasi perusahaan atau bisnis untuk mengungkapkan rencana kegiatan dalam suatu kuantitatif, koordinasi, implementasi, serta mengendalikan kegiatan operasional maupun menilai kinerja manajerial dalam suatu perusahaan.

Harahap (2001:15)  menjelaskan bujet merupakan konsep yang membantu manajemen, ia larut dalam fungsi manajemen, membantu, dan mempermudah manajemen dalam mencapai tujuan. Bujet terdiri dari serangkaian taksiran-taksiran yang dapat dipakai sebagai pedoman untuk menjalankan kegiatan perusahaan pada suatu periode, terutama pada masa yang akan datang.

Berdasarakan dari definisi di atas, menurut Mulyadi, bujet memiliki karakteristik sebagai berikut

  1. Bujet dinyatakan dalam satuan keuangan ataupun satuan lain yang menyangkut jangka waktu tertentu, biasanya satu tahun.
  2. Bujet berisi komitmen atau kesanggupan manajemen untuk menerima tanggung jawab dalam mencapai sasaran yang ditetapkan.
  3. Bujet akan menjadi bahan review dan disetujui oleh pihak yang memiliki wewenang lebih tinggi.
  4. Secara berkala, keungan sesungguhnya dibandingkan dengan bujet jika terdapat selisih dijelaskan dengan penyebabnya.

Tujuan Penyusunan Bujet

Nafarin (2004) menjelaskan bahwa tujuan penyusunan bujet sebagai berikut

  1. Digunakan sebagai landasan yuridis formal dalam memilih sumber dan investasi dana.
  2. Memberikan batasan atas jumlah dana yang dicari dan digunakan.
  3. Merinci jenis sumber dana yang dicari atau jenis investasi dana, sehingga dapat memudahkan pengawasan.
  4. Merasionalkan sumber dan investasi dana supaya dapat mencapai hasil yang maksimal.
  5. Menyempurnakan rencana yang telah disusun karena dengan bujet lebih jelas dan nyata terlihat.
  6. Menampung dan menganalisis serta memutuskan setiap usulan yang berkaitan dengan keuangan.

Sedangkan Christina (2001:4), tujuan penyusunan bujet sebagai berikut

  1. Menyatakan harapan dan sasaran perusahaan secara jelas dan formal, sehingga dapat menghindari kerancuan dan memberikan arah terhadap apa yang hendak dicapai manajemen.
  2. Mengkomunikasikan harapan manajemen kepada pihak-pihak terkait sehingga bujet dimengerti, didukung, serta dilaksanakan.
  3. Menyediakan rencana terinci mengenai aktivitas dengan maksud mengurangi ketidakpastian dan memberikan pengarahan yang jelas bagi individu dan kelompok dalam upaya mencapai tujuan perusahaan.
  4. Mengkoordinasikan metode atau cara yang akan ditempuh dalam rangka memaksimalkan sumber daya.
  5. Menyediakan alat pengukur dan mengendalikan kinerja individu maupun kelompok, serta menyediakan informasi mendasar perlu atau tidaknya tindakan koreksi.

Fungsi dan Manfaat Bujet

Salah satu fungsi dari penyusunan bujet adalah untuk mengevaluasi kinerja yang sudah dilakukan oleh perusahaan. Nafisa (2004:15-17) menjelaskan bahwa bujet mempunyai fungsi sebagai berikut

a. Fungsi Perencanaan

Bujet merupakan alat perencanaan tertulis yang menuntut pemikiran yang teliti dan akan memberikan gambaran yang lebih nyata dan jelas dalam unit dan uang. Contoh sebuah perusahaan ingin merencanakan laba yang setinggi-tingginya, dalam bujet rencana laba tersebut disusun secara teliti dan detail. Termasuk juga, rincian anggaran produksi mengenai bahan dan bagaimana perkiraan keuntungan yang didapatkan dari hasil distribusinya.

b. Fungsi Pelaksanaan

Bujet merupakan pedoman dalam pelaksanaan pekerjaan, sehingga setiap pekerjaan yang ada dalam kegiatan di perusahaan dijalankan secara selaras dalam upaya mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dengan demikian, bujet penting untuk menyelaraskan atau koordinasi pada setiap bagian kegiatan, seperti bagian pemasaran, bagian umum, bagian produksi dan bagian keuangan. Apabila salah satu bagian tidak dapat melaksanakan tugas sesuai yang telah direncanakan, maka akan mengakibatkan departemen (bagian) yang lain tidak dapat melaksanakan tugas secara selaras, terarah, dan terkoordinir sesuai yang direncanakan atau yang telah disepakati dalam bujet. Itu membuktikan peran bujet sebagai alat pengkoordinasian kerja dalam membantu manajemen perusahaan dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya.

c. Fungsi Pengawasan

Selain yang dijelaskan di atas, bujet mempunyai fungsi pengawasan atau controlling. Hal tersebut membuktikan bahwa bujet bermanfaat untuk mengevaluasi atau menilai setiap pelaksanaan pekerjaan, dengan cara membandingkan realisasi dengan rencana (bujet) dan melakukan tindakan perbaikan jika dipandang perlu atau jika terdapat penyimpangan yang merugikan.

Penyusunan Bujet

Gunawan dan Asri menjelaskan bahwa syarat menyusun bujet di antaranya adalah

a. Realistis

Yang dimaksud realistis di sini adalah tidak terlalu optimis ataupun pesimis. Artinya dalam proses penyusunan bujet didasarakan pada keadaan yang semestinya. Serta targetan capain laba pun disesuaikan dengan keadaan yang dilapangan mengenai kuantitas dan kualitas sumber daya manusia, dengan kuantitas dan kualitas pasar.

b. Luwes

Dalam penyusunan bujet tidak boleh kaku atau harus luwes, agar mudah disesuaikan dengan kondisi yang selalu mengalami perubahan yang tidak tetap.

c. Continue

Penyusunan bujet membutuhkan perhatian secara terus menerus. Artinya, dalam proses melakukan kinerja, bujet harus diperhatikan sebagai acuan dari sebuah program. Apabila ada program yang mengalami pengeluaran di luar dari rasion bujet, berarti harus dikembalikan melalui evaluasi kerja atau penyusunan ulang.

  1. Memiliki kemampuan komunikasi dengan efektif.
  2. Memiliki kemampuan dalam memberikan motivasi kepada anggotanya.
  3. Dan memiliki kemampuan untuk mendorong adanya partisipasi.

Namun, Stoner dan Freeman (1995:570) menjelaskan bahwa cara penyusunan bujet ada dua metode

a. Top-Down Budgeting

Top-Down Budgeting merupakan cara penyusunan bujet yang ditentukan oleh pimpinan tertinggi perusahaan dengan sedikit atau tanpa ada konsultasi dengan manajer tingkat bawah. Keuntungan mengunakan metode ini dalam penyusunan bujet adalah mempersingkat waktu penyusunan bujet. Namun, kelemahan mengunakan metode ini adalah tidak diperhitungkannya kebutuhan pada tiap bagian secara tepat, karena semuanya merupakan keputusan sepihak dari manajer tingkat atas atau top manajer.

b. Buttom-Up Budgeting

Buttom – Up Budgeting merupakan cara penyusunan bujet yang disiapkan oleh pihak yang akan melaksanakan bujet tersebut. Metode bottom-up budgeting ini memiliki tingkat akurasi analisis penyusnan bujet yang ketat. Hal tersebut dikarenakan, metode tersebut lebih menekankan dialog antar jajaran struktural dalam penyusunan bujet, sehingga bujet yang disusun benar-benar akurat sesuai dengan kebutuhan per bagian atau departemen.  Dengan demkian tidak ada lagi kecemburuan karena proses penyusunan anggarannya berbeda besar dan kecilnya. Namun, menggunakan metode ini dalam penyusunan bujet membutuhkan waktu yang sangat lama.

Demikian merupakan hal penting yang harus diperhatikan dalam penyusunan bujet. Pasalnya bujet sangat berpengaruh pada keberlangsungan perusahaan. Perusahaan mengalami kemajuan atau kemunduran bergantung dengan penyusunan bujetnya.

Tidak hanya itu, bujet yang mempunyai peran penting sebagai pengontrol dinamika yang ada dalam perusahaan. Mengenai ketidaksesuaian antara konsep yang ada dalam penyusunan bujet dengan realitas yang ada di lapangan.

Semoga dibuatnya artikel ini, mempunyai manfaat yang besar terhadap pembaca terutama pembaca yang sekaligus pelaku usaha, atau pembaca yang baru ingin memulai terjun dalam dunia usaha.