Halo kali ini CSRKITA akan mengulas tentang Penjelasan Mengenai Identifikasi. Semoga artikel ini bermanfaat dan menambah wawasan.

Identifikasi merupakan kecenderungan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan orang lain atau suatu kelompok tertentu. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, Identifikasi adalah proses psikologi yang terjadi dalam diri seseorang karena secara tidak sadar dia membayangkan dirinya seperti orang lain yang dikaguminya, lalu dia meniru tingkah tingkah laku orang yang dikaguminya itu.

Masyarakat awam biasanya menyebut identifikasi dengan idola. Kecenderungan seseorang akan meniru gaya hidup, gaya bicara, bahkan meniru cara berfikir dan karyanya apabila sudah mengidolakan seseorang. Mereka ingin dianggap seperti yang diidolakan. Jika ada yang memuji mereka atau bahkan menganggap dirinya mirip (identik) dengan idolanya mereka akan bahagia bahkan terbang melayang-layang.

Dalam bahasa sekarang fenomena tersebut sangat identik dengan influenser. Media sosial memudahkan masyarakat untuk terpengaruh dan mengikuti idolanya. Bahkan, melalui media sosial itupulah orang bisa mudah untuk diikuti atau menjadi influenser. Tidak seperti dulu sebelum adanya media sosial. Orang untuk bisa terkenal harus menjadi artis di televise atau publik figur. Yang mana aksesebelnya sangat terbatas.

Bisa kita lihat, saat ini banyak influenser yang bermunculan justru dari orang biasa. Yang mana, dirinya tidak membayangkan bisa untuk menjadi seperti saat ini. Banyak dari mereka sebenarnya hanya iseng saja dalam melakukan hal tersebut. Jadi, angan-angan untuk menjadi terkenal pun tidak ada dibenak mereka.

Hal itulah yang menyebabkan sebagian dari mereka tidak sadar bahwa dirinya terkenal. Hal tersebut dikarenakan mereka dalam melakukan tindakan di media sosial sebenarnya hanya iseng-iseng saja, untuk melepaskan penat. Tau-taunya, tindakan yang mereka lakukan malah diikuti oleh banyak orang sehingga viral.

Di balik ketenaran seseorang, sebenarnya ada beberapa hal yang terkorbankan. Media sosial tidak dapat menyaring, hal yang bermutu dan hal yang merusak. Logika algoritma yang mereka gunakan hanya mampu mendeteksi konten yang sering dikunjungi oleh netizen. Ukuran baik-buruknya ditentukan oleh rating like dan comment. Maka, wajar saja jika di era sekrang kita banyak menemukan fenomena yang unik. Fenomena yang seharusnya menjadi tuntunan malah menjadi tontonan, pun dengan sebaliknya.

Media sosial juga mendorong tumbuh dan menjamurnya kelompok fans influenser. Tumbuhnya pun semerbak di mana-mana tanpa melihat kondisi tempat dan waktu. Mereka tumbuh bak jamur pada musim hujan, yang seringkali muncul di waktu yang tidak tepat dengan formasi yang menjengkelkan.

Bagi manusia seperti saya, yang tidak suka sama sekali dengan Blackpink atau yang berbau Musik Korea sangat jengkel jika melihat beranda status yang dipenuhi oleh fans-fans K-Pop tersebut. Munculnya seperti jalangkung yang datang tak diundang dan pulang tak diantar, intinya menakutkan. Jika mendapat hal yang demikian, dengan terburu-buru seperti dikejar Bulldog, aku langsung menutup seluruh laman berandaku. Tak tangung-tangung beberapa harus melakukan tindakan unfollow, walaupun terkesan sangat kejam dan tidak punya hati.

Namun, faktanya fenomena tersebut ada. Bahkan mereka rela melakukan apa saja untuk bertemu dengan mereka. Beberapa dari mereka harus mengamen, mencuri uang ibu-nya atau mungkin ada yang menjual diri. Saya tegaskan sekali lagi, faktanya hal yang demikian itu ada.

Agar kita lebih mudah mendeteksi fenomana apakah yang saya jelaskan di atas. Alangkah lebih baiknya kita simak penjelasan di bawah ini.

Identifikasi secara sederhana dapat dibagi menjadi beberapa bagian; identifikasi budaya,  dan identifikasi sosial. Adapun penjelasan mengenai identifikasi budaya dan indentifikasi masyarakat sebagai berikut ;

Identifikasi Budaya

Koentjaraningrat menjelaskan budaya sebagai “daya budi” yang berupa cipta, karsa dan rasa, sedangkan kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa, dan rasa itu. Pada dasarnya banyak yang membedakan antara budaya dengan kebudayaan. Di mana budaya merupakan perkembangan majemuk budi daya, yang berarti daya dari budi. Pada kajian Antropologi, budaya merupakan singkatan dari kebudayaan dan tidak ada perbedaan dari definisi keduanya. Jadi kebudayaan atau disingkat budaya, menurut Koentjaraningrat merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar

Misalnya saja mengenai klaim yang dilakukan Malaysia terhadap Reog Ponorogo. Reog Ponorogo yang diakui sebagai kebudayaan negara tersebut. Padahal jika dilihat dari sejarahnya sangatlah jelas, Reog Ponorogo adalah kebudayaan asli Indonesia.

Demi mengklaim bahwa Reog Ponorogo sebagai kebudyaan Malaysia. Meraka bahkan mendatangkan langsung para budayawan Indonesia untuk memberikan pelatihan dan keterampilan mengenai Reog Ponorogo. Hal tersebut dilakukan agar mereka mampu menguasai Reog Ponorogo secara sempurna guna memperkuat legitimasi yang mereka lakukan.

Identifikasi Masyarakat

Identifikasi sosial perkembangan konsep yang digagas oleh Tajfel. Konsep tersebut membahas mengenai teori identitas sosial. Teori identitas sosial merupakan sebuah teori yang menjelaskan perilaku individu dalam kelompok dengan menggunakan pendekatan top down, setelah sebelumnya muncul Realistic Conflict Theory yang dikembangkan oleh Sherif.

Dalam teori tersebut, Sherif  memberikan prespektif baru dalam menyeimbangkan pandangan lama mengenai hubungan antarkelompok yang bersifat bottom up, yakni menganggap bahwa perilaku kelompok dipengaruhi oleh patologi masing-masing anggota kelompok.

Dengan kata lain, dalam pendekatan bottom up, pemicu terjadinya konflik antarkelompok adalah patologi tertentu yang membuat individu-individu dalam kelompok menunjukkan perilaku agresif dan intoleran.

Sherif kemudian melakukan studi pada kelompok siswa dan menemukan bukti bahwa perilaku individu dalam kelompok dapat dipicu oleh faktor yang berasal dari dalam kelompok itu sendiri terutama menyangkut tujuan kelompok. Saat dua kelompok memiliki tujuan yang sama dan hanya bisa diperoleh dengan saling mengalahkan, maka hubungan antarkelompok yang tercipta adalah kompetisi dan disharmoni. Sedangkan, saat kelompok memiliki tujuan yang sama dan hanya bisa diperoleh dengan kerja sama antarkelompok, maka yang tercipta adalah hubungan antarkelompok yang kohesif dan harmonis.

Tajfel menjelaskan bahwa sebelum individu membenci, tidak menyukai dan bahkan melakukan diskriminasi terhadap suatu kelompok, ia harus memiliki kedekatan atau rasa memiliki terhadap kelompok yang bertentangan. Menurutnya, dalam studi Sherif, terdapat peran kategorisasi dan identifikasi individu terhadap kelompoknya. Namun hal ini tidak dibahas lebih fokus dan mendalam. Karena itulah, Tajfel  mencetuskan teori yang dinamakan Social Identity Theory guna mengembangkan Realistic Conflict Theory.

Teori tersebut muncul dari hasil temuan Tajfel dalam studi eksperimental yang biasa dikenal “minimal group experiment”. Dalam studi tersebut, Tajfel ingin mengetahui pengaruh kategorisasi kelompok terhadap perilaku antarkelompok pada kondisi kelompok minimal. Kondisi tersebut diantaranya adalah kondisi dimana tidak ada interaksi antar individu, kekerasan di masa lalu, konflik kepentingan, keuntungan material yang diperoleh individu dari kelompok, maupun informasi mengenai identitas individu yang berada dalam ingroup maupun outgroup.

Dengan kriteria tersebut, ia bermaksud untuk menciptakan kelompok yang bersifat sementara dan tidak memiliki tujuan tertentu. Selanjutnya, partisipan diminta untuk menentukan besaran poin yang harus diberikan kepada anggota ingroup dan outgroup.

Hasilnya menunjukkan bahwa individu cenderung memberikan poin lebih besar kepada anggota yang sama dalam satu kelompok. Dengan kata lain, sikap dan perilaku untuk mementingkan kelompok sendiri (ingroup) dibandingkan kelompok lain (outgroup) pada individu tetap muncul meski kelompok tersebut tidak memiliki tujuan yang jelas.