Halo kali ini CSRKITA akan mengulas tentang Masalah Sosial yang Ada di Indonesia. Semoga artikel ini bermanfaat dan menambah wawasan.

Indonesia adalah negara yang memiliki banyak suku, ras, budaya, agama, dan bahasa. Berdasarkan pemberitaan Kompas.com, kurang lebih ada 714 suku, 1001 bahasa, serta lebih dari 6 agama dan aliran kepercayaan. Semua itu tersebar   di lebih dari 16.000 pulau yang ada di Indonesia.

Banyaknya perbedaan itulah yang menyebabkan Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman terbanyak di dunia. Semua keanekaragaman tersebut di bingkai dalam satu rumusan Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu jua.

Banyaknya etnis yang ada di Indonesia tersebutlah yang mengindikasikan bahwa negara ini memiliki banyak perbedaan. Dalam perbedaan itu yang membuat negara ini menjadi rawan pecah atau terbelah. Salah satu sebab terjadinya pembelahan tersebut adalah dengan munculnya masalah sosial yang ada di Indonesia.

Faktor Penyebab Perselisihan di Masyarakat

Masalah sosial sendiri merupakan perselisihan dalam masyarakat yang terdorong akibat dari interaksi sosial antar individu, interaksi sosial antar individu dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok lainnya. Timbulnya perselisihan dalam masyarakat tersebut didasari atas beberapa faktor. Di antaranya sebagai berikut,

Faktor Ekonomi

Ekonomi menjadi salah satu faktor utama terjadinya masalah sosial. Hal tersebut dikarenakan ekonomi merupakan basic structure (kebutuhan utama) masyarakat dalam mempertahankan hidup. Perbedaan kepemilikan ekonomi yang mengakibatkan timbulnya ketimpangan sosial. Ketimpangan sosial inilah yang nantinya akan memicu terjadinya konflik atau masalah sosial.

Sebagaimana yang terjadi di Rusia pada awal abad 20, tepatnya tahun 1917. Terjadi revolusi besar-besaran yang sering dinamakan revolusi proletariat atau revolusi bolzeviks. Sebuah gelombang massa yang mendorong terjadinya sebuah gerakan revolusi tersebut didasari karena adanya ketimpangan yang besar antara buruh tani dan buruh industri (yang sering disebut proletariat) dengan tuan tanah yang merupakan bagian dari feodalisme dan sisa kapitalisme abad tengah di Rusia.

Gelombang massa yang dipimpin lenin tersebut, menginginkan adanya kepemilikan hak yang sama dan kesempatan yang setara bagi masyarakat Rusia. Dengan tagline familiernya satu sama satu rasa, yang cita-cita utamanya adalah membentuk masyarakat komunis.

Hal tersebut pula terjadi di Argentina, ribuan pekerja melakukan aksi mogok dan memadati jalan raya kota pada tahun 2002, sehingga melutuslah peristiwa revolusi Argentina. Sebuah gelombang gerakkan rakyat yang didasari atas tingginya ketimpangan kelas dan pemerintahan korup dan sangat otoriter.

Berdasarkan film dokumentasi WatchDoc, Sexy Killer, menggambarkan sebuah konflik yang terjadi di beberapa daerah yang diakibatkan karena ketimpangan kelas. Khusus dalam kasus Sexy Killer adalah tambang. Pemilik tambang yang lahir dalam kelangan kapitalis berkompromi dan berkolaborasi dengan pemerintah daerah dengan dalih mendorong pertumbuhan ekonomi negara, melakukan eksplotasi besar-besaran di Kalimantan. Yang mana hasil dari eksplotasi tersebut menciptakan sebuah konflik horizontal dalam kalangan masyarakat sipil. Masyarakat pro dan kontra yang akhirnya beradu mulut dan beradu fisik dengan kelompoknya sendiri.  Padahal, yang mendapatkan keuntungan besar dari adanya konflik tersebut adalah kapitalis atau pemilik modal (dalam kasus tersebut adalah pemilik tambang).

Faktor Biologis

Selain ekonomi, yang sering menimbulkan atau menciptakan konflik adalah faktor biologis. Yang dimaksud faktor biologis di sini adalah, yang berhubungan dengan masalah biologi (alam kedirian manusia). Misalnya, seseorang yang memiliki antibodi lemah, sehingga rentan terhadap penyakit. Dirinya tersebut akan menimbulkan masalah sosial baru, hal tersebut dikarenakan dirinya mudah tertular dan menularkan penyakit yang dideritanya.

Faktor Psikologis

Selain maslah ekonomi, dan biologi. Faktor lain yang sering menjadi penyebab timbulnya masalah sosial adalah faktor psikologis. Dal tersebut dikarenakan faktor ini erat hubungannya dengan gonjangan jiwa serta pikiran manusia yang tidak seimbang dengan kondisi alam sadarnya. Kondisi tersebut akan berakibat pada kegilaan serta ketidaknormalan dalam menjalani kehidupan.

Faktor Kebudayaan

Faktor yang menimbulkan masalah sosial lainnya adalah kebudayaan. Kebudayaan adalah hasil kegiatan dan penciptaan manusia. Kebudayaan juga dapat diartikan sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya.

Kebudayaan menyangkut proses berfikir atau berkarya individu atau kelompok. Hal tersebutlah yang mengakibatkan bahwa setiap kelompok atau komunitas, lebih besar lagi adalah suku ataupun negara memiliki ciri khas kebudayaan masing-masing. Baik dari tata laku (norma), kesenian, ataupun bentuk tubuh, serta adat yang ada di masyarakat.

Karena sifatnya adalah privat masing-masing kelompok, dan yang sifatnya privat itu biasanya memiliki tingkat sensitifitas yang tinggi. Tentunya, sebagai negaa yang memiliki luas wilayah geografis yang besar dengan keanekaragaman yang tinggi membuat Indonesia rawan tercipta konflik atau masalah sosial.

Seperti yang dijelaskan di atas, hal tersebut dikarenakan kebudayaan adalah sesuatu yang sifatnya privat bagi kelompok atau komonuitas tertentu. Mecenderungan umum masyarakat Indonesia akan melakukan pembelaan pada sesuatu yang privat biasanya sangat ketat. Hal tersebut dikarenakan masyarakat menganggap bahwa, kondisi tersebut menyangkut harga diri kelompok atau masyarakat tertentu.

Contoh Masalah Sosial di Indonesia

Kemiskinan

Kemiskinan merupakan masalah laten yang dialami di setiap negara dunia ke-tiga. Tak terkecuali adalah Indonesia. Bahkan, di negara dunia ke-tiga, kemiskinan bahkan sudah menjadi sesuatu hal yang membudaya. Hal tersebut dikarenakan, perkembangan individu (SDM) yang lambat, yang tidak mampu mengimbangi perkembangan teknologi yang begitu cepat.

Keterlambatan berkembangnya individu menjadikan negara dunia ke-tiga tidak produktif kreativitas. Hal tersebut yang menjadi negara dunia ke-tiga selalu menjadi objek pasar negara dunia maju atau negara dunia pertama. Yang tentunya, kemajuan tersebut mengkontruks pikiran negara untuk tidak produktif dan menjadi konsumen penuh negara dunia pertama. Karena sifat dasar dari teknologi adalah membantu meringankan beban manusia yang berujung pada ketergantungan. Kondisi tersebut yang membuat negara dunia ke-tiga terlambat dalam mengembangkan diri.

Tidak hanya itu, kemiskinan juga dapat terjadi karena ketidakmerataan kesempatan dalam memiliki sesuatu (barang ataupun properti, atau bahkan dalam menjangkau pendidikan). Kondisi kemiskinan seperti ini bisa disebabkan dua faktor. Faktor alamiah dan faktor struktural.

Pertikaian

Pertikaian menjadi salah masalah sosial yang sering muncul di tengah masyarakat. Hal tersebut dikarenakan munculnya masalah sosial ini sangat mudah, tidak melulu mengenai persoalan besar. Bisa hanya karena masalah yang sepele, misalnya karena perbedaan pendapat mengenai memilih tempat makan, dan lain sebagainya.

Solusi dalam mengatasi masalah ini pun sangat variatif, tidak bisa menggunakan satu pendekatan yang digeneralisir. Satu fenomena memiliki cara sendiri dalam penyelesaiannya. Mulai dari yang mudah karena persoalannya kecil, sampai yang rumit karena persoalannya sangat besar.

Kesenjangan Hukum

Masalah sosial lainnya yang sering kita dengar adalah kesenjangan hukum. Seringkali kita mendengar kalimat sarkasme runcing ke bawah, tapi tumpul ke atas. Kalimat tersebut merupakan satir paling menusuk bagi kondisi hukum Indonesia yang seperti saat ini.

Sering kita melihat fenomena yang Nampak di media sosial ataupun televisi mengenai ketidakadilan dalam penegakan hukum di Indonesia. Seorang nenek tua yang tidak sanggup untuk bekerja, mengambil semangka miliki tetangganya yang kaya raya dihukumi pidana. Sementara, anak pejabat yang melakukan tindakan asusila tidak dijatuhi hukum yang setimpal. Atau koruptur yang mengambil uang negara, diberi hukuman yang sangat ringan. Bahkan, beberapa dari mereka malah diberi kebebasan untuk memilih fasilitas rumah tahanan.

Pendidikan yang Rendah

Pendidikan menjadi salah satu masalah sosial yang paling akut di Indonesia. Permasalahan yang ditimbulkan dari faktor pendidikan ini pun sangat variatif. Mulai dari pendidikan yang tidak merata, tingkat pendidikan masyarakat Indonesia yang masih rendah, hingga kurikulum pendidikan yang sampai saat ini masih probelmatik.

Beberapa daerah di Indonesia terutama yang masuk kawasan 3T, tertinggal, terpencil, dan terbelakang memiliki tingkat pendidikan yang masih sangat rendah. Mereka harus menempuh jalan yang puluhan kilometer hanya untuk mengenyam bangku sekolah. Mereka harus melewati jalan yang naik turun, lembah, bahkan jembatan yang terbuat dari kayu dan sudah tua.

Rendahnya tingkat pendidikan juga berpengaruh pada kualitas sumber daya manusia dan kualitas hidup masyarakat. Masyarakat yang memiliki pendidikan yang tinggi akan memiliki imajinasi yang sangat tinggi dalam menghadapi peliknya hidup. Namun, jika masyarakat tersebut memiliki tingkat pendidikan yang rendah, mereka akan memiliki harapan hidup yang rendah pula.