Salah satu karakter yang harus dimiliki oleh individu dalam meningkatkan pendapatan (income) adalah dengan dimilikinya etos kerja yang tinggi pada setiap individu. Pasalnya, di tengah ketatnya persaingan ekonomi global menuntut kita untuk memperbesar inovasi dan kreativitas, terutama etos kerja yang cerdas.

Ketatnya persaingan global memaksa kita, untuk larut dalam sebuah prinsip dasar kompetisi. Lemah dan tidak memiliki inovasi dalam kreativitas akan kalah dan tersingkirkan. Untuk mengejar hal tersebut harus memiliki etos kerja yang tinggi dan bekerja secara cerdas.

Sebagaimana yang sering dikatakan Presiden Republik Indonesia dalam pidato pelantikannya ; untuk mencapai pada cita-cita Indonesia maju tahun 2045, sebagai 5 besar kekuatan ekonomi dunia, kita harus memiliki etos kerja yang tinggi dan bekerja secara maksimal.

Indonesia memiliki bonus demografi, yaitu usia produktif lebih banyak daripada usia yang tidak produktif. Maka dari itu, jika kita tidak dapat memanfaatkan usia produktif tersebut, bonus demografi yang awalnya menjadi kekuatan akan berubah menjadi ancaman bagi bangsa Indonesia.

Pengertian Etos Kerja

Sebelum membahas lebih jauh pidato presiden tersebut, akan lebih bermanfaat jika kita mendefinisikan etis kerja terlebih dahulu. Secara terminologi, etos memiliki tiga makna : suatu aturan umum atau cara hidup, suatu tatanan aturan perilaku, dan penyelidikan tentang jalan hidup dan seperangkat aturan tingkah laku.

Etos berasal dari bahsa Yunani yang memiliki arti sikap, kepribadian, watak, karakter, dan keyakinan atas sesuatu. Secara etimologi etos berarti suatu pandangan hidup yang khas dari suatu golongan sosial. Sedangkan kerja menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), adalah kegiatan melakukan sesuatu.

Dari definisi di atas dapat dijelaskan bahwa etos kerja adalah sebuah pandangan hidup dari suatu kelompok atas semangatnya dalam melakukan sesuatu, sehingga melakukan sesuatu tersebut sudah menjadi budaya. Menurut Sukardewi, etos kerja adalah sikap atau kehendak yang muncul atas kesadaran sendiri atas sistem orientasi nilai terhadap budaya kerja.

Menurut Sinamo, etos kerja adalah seperangkat perilaku positif yang berakar pada keyakinan fundamental yang disertai komitmen total pada paradigm kerja yang integral.

Panji Anoraga menjelaskan bahwa etos kerja adalah padangan dan sikap suatu bangsa atau umat terhadap kerja. Oleh karena itu, menimbulkan pandangan dan sikap menghargai kerja sebagai sesuatu yang luhur, sehingga diperlukan dorongan atau motivasi.

ciri-ciri orang yang memiliki etos kerja

Adapun ciri-ciri orang yang memiliki etos kerja adalah sebagai berikut

A. Menghargai Waktu

Salah satu hakikat dari etos kerja adalah cara seseorang menghayati, memahami, dan merasakan betapa berharganya waktu. Orang yang sudah memiliki etos kerja akan sadar bahwa dirinya akan terus merayap dari detik ke detik dan dia pun sadar bahwa sedetik yang lalu tak kan pernah kembali kepadanya.

B. Memiliki Moralitas yang Lebih Bersih (Ikhlas)

Salah satu kompetensi moral yang harus dimiliki orang yang mempunyai budaya kerja adalah keikhlasan. Hal tersebut dikarekan ikhlas merupakan intepretasi dari cinta, bentuk kasih sayang, dan pelayanan tanpa ikatan. Sikap ikhlas akan memperhatikan output dari dirinya melayani, melainkan juga input atas bentuk kepribadiannya yang didasarkan pada sikap yang bersih.

C. Memiliki Kejujuran

Kejujuran adalah sikap yang ada dalam diri manusia, merupakan bisikan kalbu yang terus menerus mengetuk dan membisikkan nilai moral yang luhur. Kejujuran bukanlah sebuah keterpaksaan, melainkan panggilan dari sebuah keterikatan.

E. Memiliki Komitmen

Komitmen adalah keyakinan yang mengikat sedemikan kuat, sehinga terbelengu seluruh hati nuraninya dan kemudian mengerakkan perilaku menuju tertentu yang diyakini. Dalam komitmen terkandung sebuah tekad, keyakinan, yang melahirkan bentuk vitalitas yang penuh gairah.

F. Kuat Pendrian (Konsisten)

Konsisten adalah suatu kemampuan untuk bersikap taat, pantang menyerah, dan mampu mempertahankan prinsip walau harus berhadapan dengan apa yang membahayakan dirinya. Konsisten menuntut kita untuk patuh dan setia pada ucapan atau tulisan yang sudah diikrarkan, sehingga dapat tersalurkan dengan baik melalui bentuk tindakan. Orang yang konsisten pastinya mampu mengendalikan emosi yang ada dalam dirinya secara efektif.

8 Etos Keja Profesional

Selain itu, untuk menumbuhkan etos kerja menurut H. Sinamo, dalam bukunya 8 Etos Keja Profesional dijelaskan sebagai berikut

  1. Kerja Sebagai Rahmat artinya aku bekerja dengan tulus dan penuh rasa syukur.
  2. Kerja adalah amanah artinya aku bekerja dengan penuh rasa taggungjawab.
  3. Kerja adalah panggilan artinya aku bekerja dengan tuntas dan penuh integritas.
  4. Kerja adalah aktualisasi artinya aku bekerja dengan giat dan penuh semangat.
  5. Kerja adalah ibadah artinya aku bekerja dengan serius dan penuh kecintaan.
  6. Kerja adalah seni artinya aku bekerja dengan cerdas dan penuh kreativitas.
  7. Kerja adalah kehormatan artinya aku bekerja dengan penuh ketekunan dan keunggulan.
  8. Kerja adalah pelayanan artinya aku bekerja paripurna dengan penuh kerendahan hati.

faktor-faktor yang mempengaruhi etos kerja

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi etos kerja menurut Anoraga adalah sebagai berikut

A. Agama

Agama merupakan sistem nilai yang mengatur tata nilai dasar kehidupan, termasuk di dalamnya adalah manusia. Kedudukan agama dalam kehidupan manusia adalah prinsip dasar yang memuat tata laku, sehingga hal tersebut mempengaruhi cara pandang kita terhadap dunia.

Pada prinsipnya, Agama mengajarkan dan menganjurkan kita untuk bersungguh-sungguh dalam melakukan apapun, termasuk di dalamnya adalah kerja. Bahkan, ada sebuah riwayat yang menjelaskan jika kamu bekerja bayangkan seolah-olah kamu hidup seribu tahun lagi, sedangkan jika kamu beribadah bayangkan kamu mati esok hari. Sudah jelas dalam riwayat tersebut, bahwa Agama sangat menganjurkan kita untuk sungguh-sungguh dalam melakukan kerja, mesikupun hal tersebut hanya berhubungan pada dunia saja. Karena dalam kaca mata Agama, dunia dan akhirat mempunyai relasi yang tidak dapat dipisahkan. Salah satu alat kontrol dunia adalah akhirat. Pasalnya dunia memberikan kita imajinasi kenikmatan syahwati, dan akhirat memberikan imajinasi yang berteguh pada moralitas dan tata nilai syariat.

B. Budaya

Sikap mental, tekad, disiplin, dan semangat kerja masyarakat juga disebut sebagai etos budaya dan secara operasional etos budaya juga disebut dengan etos kerja. Kulitas etos kerja tersebut ditentukan oleh sistem orientasi nilai budaya masyarakat yang bersangkutan.

Apabila di suatu lingkungan yang mempunyai etos kerja yang bagus, sudah otomatis setiap individu yang masuk dalam lingkungan tersebut juga akan memiliki etos kerja yang bagus, meskipun sebelumnya, individu tersebut memiliki etos kerja yang buruk.

Pun dengan sebaliknya, di suatu lingkungan yang memiliki etos kerja buruk, sudah otomatis individu yang ada dalam lingkungan tersebut memiliki etos kerja rendah ataupun pemalas. Misalnya, ada individu yang awalnya memiliki etos kerja bagus, lalu masuk dalam lingkungan yang memiliki etos kerja buruk, sudah otomatis etos kerja yang mereka miliki akan terpengaruh juga menjadi buruk.

C. Sosial Politik

Salah satu yang mempengaruhi etos kerja adalah kondisi sosial politik yang ada di masyarakat. Biasanya, rendahnya etos kerja di suatu daerah berbanding lurus dengan semangat pemerintah ataupun struktur birokrasi untuk mendorong masyarakat bekerja keras agar dapat menikmati hasil kerja kerasnya secara penuh.

D. Kondisi Lingkungan dan Geografis

Secara tidak langsung lingkungan memberikan dampak yang signifikan atas perilaku atau sikap individu di dalamnya, termasuk etos kerja yang dimiliki setiap individunya. Lingkungan juga mempengaruhi manusia untuk melakukan usaha agar dapat mengelola dan mengambil manfaat dari adanya lingkungan tersebut. Bahkan, dapat mengundang pendatang untuk turut mencari penghidupan di lingkungan tersebut.

E. Pendidikan

Etos kerja tidak dapat dipisahkan dengan kualitas sumber daya manusia yang ada di dalamnya. Pendidikan menjadi faktor utama dalam mendidik atau mempersiapkan sumber daya manusia yang ada di dalamnya. Biasanya, semakin tingkat pendidikan individu tinggi maka etos kerja yang dimilikinya juga tinggi. Pasalnya, etos kerja juga berbanding lurus dengan kebutuhan dan kemampuan individu dalam melihat persoalan.

E. Struktur Ekonomi

Tinggi rendahnya etos kerja salah satunya dipengaruhi oleh ada tidaknya struktur ekonomi, yang mampu memberikan intensif kepada masyarakat untuk bekerja keras dan menikmati hasil bekerja keras dengan penuh.

F. Motivasi Intrinsik Individu

Etos kerja sangat dipengaruhi oleh motivasi setiap individu. Motivasi di sini meliputi motivasi dalam memiliki sesuatu baik bentuk barang, apresiasi, maupun karier.