CSRkita – Siapa sangka hijrah ke ibukota karena kesulitan ekonomi keluarga dan pahitnya kehidupan pada masa pendidikannya, kini berbuah menjadi prestasi yang patut membanggakan. Apalagi menjadi salah satu tokoh penting dalam perjalanan republik ini bukan merupakan sebuah capaian yang biasa.

Dahnil Anzar Simanjuntak. Pria yang sejak kecil memiliki panggilan sapaan Bang Anin ini kini menjabat sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, periode 2014 – 2018.

Bang Anin lahir di sebuah desa terpencil bernama Salahaji, yang terletak di Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Anin kecil yang lahir pada tanggal 10 April 1982 ini menghabiskan masa kecilnya di TK Aisyiyah, SDN Sriwijaya Serta SMPN 1 Kuala Simpang, sebuah desa yang terletak di perbatasan Aceh dan Sumatera Utara. Memasuki caturwulan ke 2 saat duduk di kelas 1 SMP, Anin bersama orang tuanya pindah ke Kota Sibolga. Sebuah kota yang terletak di kawasan pesisir pantai Sumatera Utara. Pendidikan SMP berlanjut di Kota Sibolga hingga Anin lulus.

Kesulitan ekonomi keluarga yang semakin mendesak memaksa Bang Anin dan keluarganya kembali pindah tempat tinggal. Saat itu keluarga memutuskan untuk hijrah ke kota Tangerang. Di kota yang terletak pada bilangan ibukota Jakarta ini, Bang Anin dan keluarga hampir putus aja menjalani hidup. Bahkan, karena kesulitan ekonomi, Bang Anin nyaris tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, tingkat SMA. Berkat bantuan seorang keluarga dari orang tuanya, Bang Anin kemudian dibantu untuk melanjutkan sekolah di SMA Muhammadiyah Ciledug, dengan beasiswa bagi keluarga yang tidak mampu.

Beasiswa bagi keluarga tidak mampu tersebut berlanjut menjadi sebuah beasiswa prestasi atas kemampuan Bang Anin dalam belajar. Jadilah selama 3 tahun Bang Anin menjalani pendidikan di SMA Muhammadiyah tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun. Saat itulah hubungan emosional antara Muhammadiyah dan Bang Anin mulai tercipta. Baginya, disaat dia dan keluarganya telah pupus harapan untuk menjalani hidup, namun Muhammadiyah tiba-tiba hadir di tengah-tengah kehidupannya sebagai pemberi harapan.

“Kemiskinan sesungguhnya adalah ketika hidup kita sudah tidak memiliki harapan dan tidak mempunyai pilihan. Tanpa sebuah harapan, hidup yang kita jalani adalah hidup yang paling mengenaskan”, ujar Dahnil.

Saat Anin menjalani pendidikan SMA di Muhammadiyah, orang tuanya terus berusaha untuk melanjutkan hidup keluarga. Berbagai profesi digeluti olah sang Ayah. Mulai dari kernet kopaja, supir angkutan umum, hingga pedagang ikan di pasar Ciledug. Bang Anin yang hadir sebagai anak tertua di keluarga, saat itu juga terpaksa ikut berjuang bersama sang Ayah. Setiap jam 3 pagi Anin ikut sang Ayah ke pasar membantu menjaga dagangan ikan hingga ba’da Subuh. Setelah itu, barulah Anin bergegas pulang ke rumah untuk menyegerakan diri berangkat sekolah. Tidak hanya itu, untuk mendapatkan tambahan, sepulang sekolah Anin juga bekerja sebagai tukang parkir di salah satu Rumah Sakit swasta di Ciledug. Membantu sang Ayah menjaga ikan setiap pagi sebelum berangkat sekolah dan menjadi seorang juru parkir sejak siang sepulang dari sekolah hingga sore hari menjadi ritme kegiatan yang harus dilakoni Bang Anin selama dia duduk di bangku SMA.

Sejak duduk di bangku SMA anak sulung dari 5 bersaudara ini sudah aktif di organisasi Muhammadiyah, Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM). Satu waktu, saat Bang Anin menjabat sebagai ketua IRM, dia sempat mengajak pengurus dan anggotanya untuk melakukan rapat di lokasi parkir, di tempat Bang Anin menjadi seorang juru Parkir.

Lulus dari bangku SMA, keluarga besarnya kembali hijrah ke kota Medan, Sumatera Utara. Namun Bang Anin memutuskan untuk tetap tinggal di Tangerang, guna melanjutkan perjuangan yang telah dia mulai. Bang Anin yang bercita-cita ingin menjadi seorang dosen berencana untuk melanjutkan kembali pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Saat itu, untuk kedua kalinya, di tengah himpitan ekonomi yang sulit, termasuk ditinggal oleh keluarga yang pulang ke Medan, Muhammadiyah kembali hadir sebagai pembawa harapan. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Ahmad Dahlan Muhammadiyah hadir memberikan solusi kepada Bang Anin dengan menawarkan pendidikan S1. Berbekal pengalaman sebagai aktivis Muhammadiyah saat duduk di bangku SMA, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Ahmad Dahlan memberikan keringanan biaya pendidikan kepada Bang Anin.

Saat menempuh pendidikan kuliah tersebut, mulai muncul tradisi intelektual dan aktivisme dalam diri Bang Anin. Ia mulai terlibat dan aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Bahkan ia sempat dipercaya menjadi Ketua Umum Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM), saat itu. Di bangku kuliah jenjang pendidikan S1 ini bang Anin menemukan tambatan hatinya, yang juga merupakan aktivis HMI. Diusia yang tergolong masih muda dan masih duduk di bangku kuliah ia memutuskan untuk menikah.

Sembari menjadi aktivis mahasiswa Muhammadiyah, dengan bantuan modal dari orang tua di Medan, Bang Anin mulai berbisnis. Di awali dengan bisnis membuka toko obat, hingga berlanjut kepada bisnis restoran, distribusi logistik, hingga bisnis properti. Menurut Bang Anin, aktivisme itu memiliki banyak godaan. Oleh karena itu, bagi Bang Anin dan istrinya, bisnis merupakan sebuah benteng atau gawang dari sebuah integritas.

Mulai dari SMA hingga kuliah, Bang Anin merasa pendidikan yang ia jalani merupakan sebuah keterpaksaan. Tanpa sebuah pilihan, karena keterbatasan ekonomi. Pada tahun 2005, usai menuntaskan pendidikan jenjang S1, Bang Anin mulai berani memilih untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang S2. Saat itu ia memperoleh kesempatan belajar di Program Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik (MPKP), konsentrasi Desentralisasi Keuangan Pusat dan Daerah, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Sambil menyelesaikan studi S2nya, Bang Anin mulai merealisasikan mimpinya menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT).

Dan pada tahun 2008, setelah menyelesaikan pendidikan S2 di UI, Bang Anin kemudian diterima sebagai Dosen di Fakultas Ekonomi Sultan Ageng Tirtayasa Banten. Hingga saat ini Bang Anin masih aktif mengajar di kampus tersebut sembari melanjutkan kuliah di program Doktor Ilmu Ekonomi di Universitas Diponegoro Semarang. Menjadi seorang dosen baginya selain memang impiannya sejak kecil, dosen itu adalah sebuah profesi dimana menjadi seorang manusia yang paling merdeka. Dan, kekayaan sejati itu adalah ketika kita memiliki kemerdekaan untuk mengekspresikan pikiran dan pendapat kita untuk kemaslahatan umat.

Melalui Muktamar Pemuda Muhammadiyah ke16 beberapa waktu lalu di kota Padang, Sumatera Barat, Bang Anin diamanahkan untuk memimpin sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah. Usai di lantik, dalam sambutannya Bang Anin menyampaikan “dakwah islam itu harus dibawa dan dihadirkan sebagai sebagai sebuah pesan solusi bagi kehidupan manusia. Untuk itu, gerakan Muhammadiyah itu harus tampil di depan umat sebagai solusi kehidupan, sebagai pembawa harapan dan memberikan pilihan kebaikan, serta kegembiraan kepada umat”.

Selain menjadi aktivis Muhammadiyah, kini Pria berdarah batak ini juga aktif di berbagai organisasi baik itu tingkat nasional, maupun tingkat internasional. Beberapa jabatan yang didudukinya antara lain sebagai President Religion for Peace Youth Interface Network Asia and Pasific, sebuah organisasi kepemudaan lintas agama seAsia Pasifik. Dan pada International Youth Commitee, Bang Anin merupakan member of Commitee, perwakilan dari Asia Pasifik. Sekretaris Dewan Pakar Asosiasi Petani Kelapa Sawit.

Bagi Anin, tangan Allah itu selalu bekerja sesuai dengan kehendakNya. Sejak mengecap pendidikan di bangku kuliah, Bang Anin selalu bermimpi ingin kuliah di luar negeri. Namun hal itu tidak pernah tercapai. Akan tetapi, dengan cara lain, melalui organisasi lintas agama seAsia Pasifik yang ia geluti, Bang Anin berkesempatan beberapa kali untuk belajar di luar negeri. Bahkan terlibat langsung dalam beberapa dialog atas konflik agama yang terjadi di beberapa negara Asia Pasifik.

Sekitar 3 – 4 tahun lalu, aktivis Muhammadiyah ini mengalami sakit stroke mata dan didiagnosa akan mengalami kebutaan. Hingga berobat ke Rumah Sakit Singapura, diagnosa dokter malah mengatakan kondisinya akan ngedrop. Bahkan jika awalnya yang mengalami sakit pada mata sebelah kanan, seorang dokter di Singapura mengatakan stroke mata tersebut akan menjalar ke mata sebelah kiri. Di saat itu, untuk kesekian kalinya bapak dari 4 orang ini kembali merasakan kehilangan harapan dalam fase perjalanan hidupnya.

Ditengah keputusasaan dan kehilangan harapannya, Bang Anin kembali menepi dengan pulang ke kampung halamannya di Sumatera Utara. Menjauh dari anak istrinya serta seluruh aktivitas yang ia geluti di ibukota, Bang Anin kembali hijrah ke Kota Binjai, Sumatera Utara, rumah orang tuanya. Selama di Binjai Bang Anin terus melalukan pengobatan alternatif dan tradisional. Ditengah keputusasaannya tersebut, Bang Anin selalu berdoa kepada Allah atas kesembuhan matanya. Dalam setiap shalat fardhu dan shalat sunnahnya, bang Anin selalu berdoa : “Ya Allah, berikan aku mukjizatMu. Jika mataku ini sembuh, aku akan bekerja untuk agamaMu”. Doa tersebut selalu menjadi do’a dalam setiap ibadah Bang Anin, tanpa ada doa lainnya.

Sebulan berlalu, seakan doa tersebut diijabah, mata Bang Anin berangsur membaik. Perlahan ia mulai bisa kembali melihat seperti sebelum sakit.

Setelah sembuh dari sakit matanya, Bang Anin kembali ke Jakarta. Ia langsung dihadapkan oleh beberapa kasus kemanusiaan, seakan janji dari doanya ditagih Allah. Ia mulai vokal dalam mengawal beberapa kasus dan permasalahan yang menyangkut kemanusiaan. Bahkan, keluarganya di Medan sempat menasehatinya agar lebih hati-hati dan jangan terlalu vokal. Menurut Bang Anin, pasca sakit yang ia derita beberapa tahun lalu, ia seakan sudah kehilangan rasa takut. Energi dakwahnya seakan bangkit untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar di muka bumi ini. Apalagi ia merasa doa saat ia sakit beberapa waktu lalu di ijabah oleh Allah. Untuk itu, ia telah berjanji sama Allah untuk bekerja di dalam jalan agama Allah pada kesempatan kedua ini.

Masih segar dalam ingatan kita, beberapa waktu terakhir nama Dahnil Anzar Simanjuntak ini juga dikaitkan, bahkan sempat diperiksa di Mabes POLRI terkait kasus yang menimpa Novel Baswedan. Terlepas Novel dan Dahnil memang sejak lama sudah berteman, pengalaman divonis akan buta secara medis, menjadi kekuatan bagi Anin, termasuk menjadi kekuatan sikapnya yang “ngotot” membela Novel Baswedan. Karena Bang Anin paham betul penderitaan dan suasana kebatinan “ancaman” kehilangan penghilatan. Doa yang dipanjatkan oleh Bang Anin saat ia terserang stroke mata itu terus dilakukan dan diyakini oleh Novel. Oleh karena itu mengawal dan mendampingi Novel menurutnya adalah sebuah tugas kespritualan baginya, meskipun dengan segala teror dan ancaman yang dihadapi.

*****

 

Berbicara terkait anak-anak Sumatera, khususnya yang berasal dari Kota Medan, Sumatera Utara, menurut pria yang memiliki hobi koleksi vespa antik ini, di dalam pribadi anak-anak Medan terdapat sebuah watak positif yang merupakan sebuah keberanian positif serta percaya diri yang tinggi dalam hal bertahan dan survive di perantauan. Satu pesan dari Ayah Bang Anin saat ia memutuskan untuk tinggal dan berjuang di Jakarta adalah, pilihan hidup itu hanya 2. Kita mau dicatat sejarah atau tidak. Dan cara untuk dicatat oleh sejarah itu juga ada 2, dicatat karena baik sekali atau jadi penjahat sekali.

Menurut Bang Anin, keberanian dan daya juang sang Ayah menjadi sebuah contoh teladan baginya.

“Mengacu kepada lagu Anak Medan yang sering dinyanyikan, hari ini anak Medan itu tidak hanya menjadi Banteng di perantauan, tetapi juga jadilah banteng yang berintegritas” tutup Bang Anin.

Penulis : Darwinsyah