Hai, kali ini CSR Kita akan mengulas tentang Disintegrasi : Penyebab, Alat Analisa, dan Contohnya.

1. Definisi / Pengertian Disintegrasi

Disintegrasi dalam Webster’s New Encyclopedic Dictionary 1996 difahami sebagai perpecahan suatu bangsa menjadi bagian-bagian yang saling terpisah. Fenomena seperti ini biasanya terjadi pada negara yang memiliki usia yang masih relatif muda. Jika disebutkan secara angka di bawah 53 tahun.

Secara sederhana disintegrasi merupakan bentuk perilaku setiap individu atau masyarakat yang hidup dalam keadaan ketidakteraturan, salah satu penyebabnya bisa dikarenakan adanya perubahan sosial yang terus menerus terjadi di setiap sisi kehidupan.

2. Bentuk-Bentuk Disintegrasi

Jika dilihat dari bentuknya, disintegrasi dapat digolongkan menjadi beberapa bagaian, di antaranya

Disintegrasi Sosial

Disintegrasi sosial merupakan ketidakadanya fungsi dan norma yang berjalan. Kondisi tersebut bisa dikarenakan adanya masyarakat yang kurang merasa puas dengan kondisinya, sehingga ia ingin melakukan perubahan-perubahan secara fundamental.

Disintegrasi Bangsa

Disintegrasi bangsa merupakan perpecahan hidup dalam masyarakat yang disebabkan karena adanya pengaruh negara lain atau negara sendiri. Salah satu penyebab adanya disintegrasi bangsa adalah tidak dapat menerima suatu perbedaan (kemajemukkan), sehingga tidak timbul sikap toleransi.

Disintegrasi Keluarga

Disintegrasi keluarga dapat didefinisikan sebagai disorganisasi keluarga yang disebabkan karena adanya kekurang pahaman antar anggota keluarga. Fakta ini dapat dilhat seperti adanya kasus perceraian, broken home, pisah ranjang, KDART, dan lain sebagainya.

3. Konflik Penyebab Disintegrasi

Salah satu faktor penyebab adanya disintegrasi karena timbulnya konflik, sedangkan salah satu penyebab timbulnya konflik adalah adanya agresi atau penyerangan.

Misalnya, terjadinya peristiwa perang di sampit, antara orang Madura dengan orang Dayak. Seperti halnya pula yang terjad di Ambon, Maluku. Antara orang Kristen dengan orang Islam. Dan masih banyak fenomena yang lainnya di Indonesia.

Teori untuk menganalisa konflik

Untuk mengidentifikasi lebih jauh terkait timbulnya konflik yang disebabkan oleh agresi, ada beberapa teori yang bisa digunakan sebagai alat analisa

Teori Insting

Agresi berasal dari dorongan atau fitrah biologis manusia untuk bertindak merusak dan destruktif. Freud menjelaskan agresi berasal dari insting thanatos  atau keinginan untuk mati yang dimanifestasikan dengan menyerang atau menyakiti orang lain maupun diri sendiri.

Teori Dorongan

Agresi disebabkan karena adanya kondisi-kondisi eksternal misalnya, putus asa, kehilangan muka atau malu yang membuat ornag bermotif kuat melakukan tindakan menyakitkan orang lain.

Dollard menjelaskan hipotesis frustasi-agresi, yaitu bahwa frustasi adalah perasaan yang tidak menyenangkan yang menimbulkan tindakan agresi. Ada hubungan erat antara perasaan negatif akibat frustasi dengan perilaku agresif.

Teori Neo-asosiasi Kognitif

Agresi berasal dari reaksi negatif terhadap pengalaman, kognisi, dan ingatan yang tidak menyenangkan. Berkowitz mengatakan jika mengalami perasaan yang tidak menyenangkan, orang lain cenderung melakukan tindakan agresif atau eskapis (melarikan diri) dari keadaan tidak menyenangkan.

Teori Pembelajaran Sosial

Agresi terbentuk karena pembelajaran dari lingkungan sekitarnya, baik melalui pengalaman langsung maupun mengamati perilaku orang lain.

Albert Bandura menjelaskan orang agresif dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pengalaman masa lalunya, penguatan atau hukuman terhadap agresifnya.

Persepsi orang yang bersangkutan terhadap tepat tidaknya agresi yang dilakukan, dan antisipasinya terhadap potensi akibat yang ditimbulkan oleh tindakan agresinya.

Faktor Penyebab Konflik menurut Teori

Simon Fisher menjelaskan bahwa konflik terjadi karena beberapa faktor

Teori Relasi masyarakat

Konflik terjadi karena ada polarisasi yang terus menerus, kecurigaan, ketidakpercayaan, dan pertentangan antara kelompok yang berbeda dalam masyarakat.

Teori Negosiasi Berprinsip

Konflik dikarenakan oleh posisi yang bertentangan dan pandangan konflik zero-sum yang diadopsi oleh pihak konflik.

Teori Kebutuhan Manusia

Konflik yang berakar mendalam biasanya disebabkan karena tidak terpenuhinya kebutuhan dasar manusia, kebutuhan primer, psiko-sosial, termasuk pula di dalamnya keamanan, identitas, perhatian, partisipasi, dan otonomi.

Teori Identitas

Konflik bisa disebabkan oleh perasaan identitas yang terancam dan seringkali berakar dari tidak terpecahkannya masalah kerugian di masa lampau dan penderitaan.

Teori Miskomunikasi antar Budaya

Timbulnya konflik dikarenakan adanya tipe komunikasi kultural yang bertentangan atau berbeda.

Teori Tranformasi Konflik

Konflik dapat terjadi karena masalah nyata yaitu ketidaksertaan dan ketidakadilan yang diekspresikan dalam persaingan kerangka kerja sosial, budaya, dan ekonomi.

4. Contoh Disintegrasi di Indonesia

Demonstrasi 98

Salah satu fenomena sosial yang sampai menciptakan disintegrasi bangsa adalah demontrasi 98. Pada saat itu pemerintah Orde Baru dibrontak oleh semua lapisan masyarakat Indonesia, terutama mahasiswa.

Kondisi tersebut dikarenakan , pemerintah Orba sangat otoriter, sehingga banyak sekali kejadian yang tidak dapat diketahui publik.

Praktek Korupsi, kolusi, dan nepotisme menjalar di semua tingkat pemerintahan. Pembangunan sangat tersentralistik, sehingga terjadi krisis ekonomi (moneter) pada tahun tersebut.

Puluhan BUMN terjual guna membayar hutang negara yang semakin tinggi. Banyak aktivis demokrasi yang diculik dan dihilangkan, dan beberapa kasus pelanggaran HAM lainnya.

Peperangan Antar Agama di Papua

Tanah Papua menjadi tanah konflik sudah sejak lama. Konflik tersebut berupa konflik horizontal antar warga sipil, konflik vertikal yang terjadi antara pemerintah Indonesia dan orang asli Papua yang telah mengorbankan banyak orang.

Konflik ini pun belum teratasi dengan baik hingga saat ini. Salah satu yang membuat konflik ini masih bertahan dengan saat ini secara jelas diperlihatkan oleh adanya tuntutan merdeka dan referendum, terjadinya pengibaran bendera bintang kejora, dan berlangsungnya aksi terkait pengembalian Undang-undang No. 21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua.

Konflik tersebut mempengaruhi kadar relasi di antara orang asli Papua, orang Papua dengan penduduk lainnya, antara orang asli Papua dan Pemerintah RI. Hal tersebut yang membuat orang Papua dicurigai sebagai anggota atau bahkan pendukung gerakan separatis. Adanya stigma tersebut membenarkan orang Papua juga tidak mempercayai Pemerintah.

Dialog konstruktif tidak pernah akan terjadi antara Pemerintah dan orang Papua. Hal tersebut dikarenakan tidak ada kepercayaan antar keduanya. Apabila  masalah dasar yang melatar belakangi konflik tersebut tidak ditemukan solusinya, maka Papua tetap menjadi tanah konflik.

Korban semakin terus berjatuhan. Hal ini pula yang akan menghambat proses pembangunan yang dilaksanakan di Tanah Papua.

Dari tengah situasi konflik inilah, para pemimpinan agama Kristen, Katolik, Islam, Hindu dan Budha Provinsi Papua mengencarkan kampanye perdamaian. Kampanye ini dilakukan dengan dengan jargon: Papua Tanah Damai (PTD).

Perkembangan selanjutnya, para pimpinan agama menjadikan PTD sebagai suatu visi bersama demi masa depan tanah Papua perlu diperjuangkan secara bersama oleh setiap orang yang menetap di tanah Papua.

Meskipun banyak orang mengakui bahwa damai merupakan hasrat terdalam dari setiap orang, termasuk orang yang menetap di tanah Papua. Kenyataan tersebut memperlihatkan bahwa banyak orang belum merasa penting untuk melibatkan diri dalam upaya menciptakan perdamaian di tanah Papua.

Orang Papua, baik yang tinggal di kota maupun di pedalaman tanah Papua, belum terlibat secara penuh dalam kampanye perdamaian ini. Padahal mereka sebagai pemilik tanah ini sudah semestinya memimpin-atau minimal terlibat dalam pelbagai upaya dalam mewujudkan perdamaian di tanah leluhurnya.

Saat ini orang Papua bangkit dan mempunyai tekad untuk berpartisipasi secara aktif dalam upaya menciptakan perdamaian di Papua. Mereka ingin memperbaharui tanah leluhurnya menjadi tanah yang damai, di mana setiap orang yang hidup di atasnya menikmati suatu kehidupan yang penuh kedamaian

Gerakan Aceh Merdeka

Contoh lainnya, yang bisa disebutkan sebagai bagian dari disintegrasi bangsa adalah Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Gerakan ini mempunyai tujuan untuk memisahkan diri dari Indonesia dan menjadi negara yang menerapkan syareat Islam.

Salah satu alasan munculnya GAM menurut ahli, disebabkan karena ketidakmerataan pembangunan antar di Jawa dan di Aceh. Oleh karena itu, masyarakat di sana sebagian besar melakukan inisiasi untuk merdeka.

Dari penjelasan di atas, secara sederhana disintegrasi merupakan bagian dari ancaman dalam kerukunan antar masyarakat. Oleh karena itu, cara mengatasi kejadian ini salah satunya dengan menjalankan terus komitmen kesepakatan antar masyarakat yang ada.

Pengantasan disintegrasi juga dapat dilakukan dengan menciptakan pranata sosial yang disesuaikan dengan proses perubahan sosial-budaya yang berkembang dalam kehidupan masyarakat. Apabila penanggualangan ini tidak dilakukan maka niscaya dampak disintegrasi akan dirasakan oleh masyarakat.