Akhir-akhir ini kita sering mendengar istilah sosial-entrepreneurship atau wirausaha sosial. Istilah ini menjadi populer seiring dengan semakin berkembangnya usaha yang berbasis komunitas salah satunya melalui desa wisata.

Wirausaha sosial sendiri merupakan sebuah usaha yang dikelola secara berkelompok yang bertujuan untuk memberikan manfaat kepada orang banyak atau masyarakat luas. Wirausaha ini digerakkan dengan maksud untuk menyejahterakan masyarakat luas.

Sebenarnya wirausaha sosial bukanlah konsep baru dalam khazanah keilmuan sosial di Indonesia. Konsep ini mirip dengan konsep koperasi rakyat yang digagas oleh bung Hatta. Yang mana usaha itu dikelola bersama-sama anggota koperasi dan keuntungannya dibagi sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan.

Wirausaha sosial pada prinsipnya sama dengan koperasi. Namun, dalam wirausaha sosial itu sendiri tidak ada sebuah ikatan yang mengikat (serikat tertentu). Maksudnya adalah tidak harus butuh tani berkumpul dengan buruh tani lalu menentukan mekanisme kerja bersama buruh tani. Dalam wirausaha sosial buruh tani dapat berkolaborasi dengan pegawai negeri sipil ataupun pengusaha dalam pengembangan usaha yang dikelola bersama.

Sebagaimana yang diterangkan di atas, salah satu bentuk wirausaha sosial adalah desa wisata. Apabila kita telusuri lebih jauh, desa wisata mulai berkembang sejak tahun 2014. Salah satu faktor yang mendasari berkembangnya desa wisata adalah karena begitu kuatnya dorongan pemerintah dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi desa. Harapan pemerintah agar desa mampu menjadi tulang punggung perekonomian negara. Keseriusan pemerintah tersebut dapat dilihat dari program dana desa, yang mana 1,4 milyar per tahun untuk subsidi desa.

Selain itu, berkembangnya desa wisata tidak bisa dilepaskan dengan adanya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Kecanggihan alat komunikasi menjadi pelopor berkembangnya desa wisata. Semakin mudah orang mempromosikan desa wisata yang dibangunnya hanya dengan mengunakan gadget. Asalkan ada koneksi internet semua bisa berjalan dengan lancar.

Mudahnya media promosi tersebut secara tidak langsung memantik orang-orang desa lainnya untuk berinovasi, minimalnya meniru konsep yang sudah ada. Sehingga pemerintahj desa berlomba-lomba untuk mendorong masyarakatnya menciptakan desa wisata. Selain nantinya pemerintah mendapat citra yang baik, juga dapat mengurangi beban pemerintah dalam pengentasan kemiskinan dan pengangguran.

Seperti halnya yang terjadi di Umbul Pongok, melalui desa wisata Desa Ponggok mampu menyejahterakan masyarakatnya. Program kesejahteraan Ponggok di antaranya menyasar pada aspek pendidikan, ekonomi, dan kesehatan. Dalam bidang pendidikan Ponggok mewajibkan satu rumah satu sarjana. Program tersebut diberikan dengan cara memberikan beasiswa kepada setiap KK. Dalam bidang kesehatan, Ponggok memberikan askes (jaminan kesehatan) pada setiap KK. Program tersebut seperti halnya Kartu Indonesia Sehat (KIS)-nya Jokowi. Dalam bidang ekonomi, Ponggok mengerakkan ekonomi mikro (umkm) untuk menunjang wisata. Selain itu, pengelolaan wisata dilakukan penuh oleh masyarakat Ponggok. Pengelola tersebut seperti, Tour Guide (pemandu wisata), fotografer, tukang parkir, penjaga loket, hingga manajer desa wisata.

Demikian juga dengan Panggungharjo, desa yang terletak di Kabupaten Bantul ini juga mengalami peningkatan kesejahteraan yang signifikan dengan adanya desa wisata. Desa wisata yang dikelola Panggungharjo berbeda dengan Ponggok. Panggungharjo, mendesain desanya sebagai pusat kuliner dan ramah lingkungan.

Di sektor kuliner misalnya, Panggungharjo membuat pusat kuliner yang diberi nama kampung mataraman.  Kampung mataraman ini yang menjadi penggerak sektor ekonomi desa pada mulanya. Pasalnya membaca Jogja sebagai kota wisata yang memiliki ratusan ribu wisatawan pada setiap tahunnya. Eksistensi kampung mataraman masih terjaga hingga saat ini. Pasalnya, kampung mataraman memiliki lokasi strategis di ringroad selatan Jogja.

Selain itu, desain rumah makan yang klasik (khas jawa) dan memiliki tempat parkir dan wahana main yang luas membuat nilai plus tersendiri di kampung mataraman ini. Belum, lagi makanan yang disajikan di sana juga didominasi makanan khas Jawa khususnya Jogja. Selain itu, sistem pelayanan yang ramah dan harga yang relative murah membuat pengunjung nagih untuk berkunjung ke tempat ini.

Tidak hanya itu, Panggungharjo juga memberdayakan sampah yang ada di masyarakat untuk dikelola. Pengelolaan ini dapat berupa bahan bakar dan juga beberapa dijual.

Seperti halnya dengan Ponggok, Panggungharjo juga dapat memberikan beasiswa dengan satu rumah satu sarjana. Dalam bidang kesehatan dapat memberikan jaminan kesehatan masyarakat. Dan dalam bidang ekonomi dapat menyerap tenaga kerja, sehingga masyarakat Panggungharjo hanya sedikit yang bekerja di luar kota. Di bidang lingkungan, Panggungharjo juga dapat mengurangi jumlah penggunaan sampah dan dapat mengolahnya. Yang jelas dengan adanya desa wisata tersebut, kesejahteraan masyarakat Panggungharjo menjadi meningkat dan memiliki harapan hidup yang tinggi terlebih untuk generasi mudanya dalam menghidupkan desa.

Desa Wisata Pulesari juga menjadi salah satu rujukan desa wisata nasional. Desa ini berada di kecematan turi, dan sudah merintis desa wisata sejak tahun 2010. Ide membuat desa wisata ini muncul setelah terjadinya banjir lahar dingin yang disebabkan oleh letusan Gunung Merapi.

Pasca letusan Gunung Merapi tersebut, kondisi perekonomian masyarakat menjadi memburuk dan kegiatan perekonomian lumpuh. Pulesari yang juga menjadi salah satu penghasil salak Sleman tidak produktif lagi. lahan perkebunan mereka rusak parah akibat letusan Gunung Merapi tersebut. Hingga banyak dari warga yang mulai melakukan urbanisasi (merantau) ke kota untuk menyambung kehidupan mereka.

Melihat kondisi tersebut muncul ide dari beberapa warga untuk membuat desa wisata. Hal tersebut dikarenan Pulesari mempunyai struktur alam yang bagus, jika dibuat wisata akan banyak yang tertarik. Selain itu, Pulesari yang juga penghasil salak juga dapat memanfaatkan hasil buminya, supaya hasil bumi tersebut tidak hanya dijual sebagai salak melainkan sebagai olahan salak.

Perjuangan mereka (kelompok yang mengagas) bukanlah mudah untuk memperkenalkan ide tersebut kepada masyarakat luas. Beberapa dibawa ke rapat warga hampir semua warga menolak untuk itu. Pasalnya, imajinasi warga belum mengarah pada ide dan kesadarannya belum terbentuk.

Kegigihan mereka (kelompok yang mengagas) dalam menyakinkan warga akhirnya terwujud. Terwujudnya pun bukan sesuatu yang mudah. Mereka menyebar hampir 1000 proposal ke sekolah dan instansi untuk menawarkan daerahnya sebagai objek wisata. Hingga akhirnya ada salah satu MAN dari Surakarta yang berkunjung ke sana.

Pada mulanya mereka sangat kualahan menyambut tamu, dikarenakan jumlah dari mereka sangat sedikit. Namun, dari susah payah itulah akhirnya warga simpatik dan mulai percaya dengan ide desa wisata tersebut.

Kedatangan tamu pertama mereka menjadi senjata awal (kelompok yang mengagas) untuk menyakinkan pada warga. Akhirnya warga simpatik karena sudah merasakan dampak lansung dengan datangnya tamu dari Surakarta tersebut.

Saat ini Pulesari menjadi desa yang mandiri. Hampir setiap tahun, pengunjung desa mereka selalu bertambah. Pulesari memberdayakan masyarakat secara penuh. Tenaga pengelola, katring, dan penginapan semua diambil dari masyarakat sekitar.

Hampir tidak ada pemuda kampung yang merantau, untuk menjadi buruh di kota orang. Pulesari juga menerapkan program satu rumah satu sarjana.

Lain halnya dengan Desa Sumberagung, Jetis, bantul. Di desa ini produk unggulan mereka adalah olahan sampah. Olalahan sampah tersebut dapat berupa tas, sepatu, sandal, dan pernak-pernik lainnya.

Salah satu pengagas ide tersebut adalah Bu Agustina Sunyi, wanita paruh baya yang semangat dalam memperhatikan kondisi lingkungan sekitarnya. Pada mulanya ide tersebut muncul setelah terjadi gempa tahun 2006. Beliau melihat banyak sekali sampah yang berserakan dan tidak ada yang memperhatikan.

Sampah hanya ditumpuk lalu dibuang kepenampungan sampah. Menurutnya hal tersebut jika dilakukan terus-terus penampungan sampah akan overload dan sampah tetap menjadi barang yang tidak berguna.

Lalu, dirinya mulai mengumpulkan sampah sendiri, dicuci, dikeringkan, hingga dijahit menjadi barang inovasi yang mempunyai nilai jual. Awalnya, aktivitasnya tersebut dianggap orang aneh, dan kurang kerjaan. Semangatnya beliau akhirnya berbuah manis manakala dirinya mendapat kunjungan dari luar negeri di rumahnya.

Dari situlah warga mulai simpatik terhadap sampah, dan mulai kepo terhadap inovasi sampah. Sampai akhirnya, ornag yang awalnya nyinyir terhadapnya ikut gabung dan menjadi karyawannya. Setiap tahun, jumlah peminat hasil kerajinannya bertambah dan permintaan terhadap inovasi-inovasi lain terus bermunculan.

Saat ini, bu Agustina Sunyi tidak hanya mengelola kerajinan sampah. Saat ini dirinya juga mengembangkan bank sampah. Beliau akhirnya dipercaya desa untuk mengurus bank sampah dan menjadi fasilitator dalam penerapan dan membuat sistem bank sampah. Selian itu, beliau juga menjadi pembicara dibergai seminar mengenai sampah dan menjadi guru ekstrakulikuler di salah satu smk yang ada di kabupatennya.

Beberapa contoh di atas, membuktikan membangun ekonomi komunitas berbasis kewirausahaan sosial sangat penting, terutama untuk membangun kesejahteraan masyarakat dan melawan kapitalisme. Jika hanya mengandalkan program dari pemerintah, laju pertumbuhan ekonomi kita sangatlah lambat.

Pemerintah seringkali tidak bisa masuk atau menyentuh pada tataran spectrum ekonomi yang sangat mikro. Pasalnya, berjalannya pemerintah saat ini hanyalah menara gading. Pemerintah jarang sekali mengetahui kondisi real masyarakat yang berada pada tataran akar rumput. Sesekali mereka mengatahui paling hanya berangkat pada tataran survei, yang terkadang banyak manipulatifnya.

Membuat gerakan rakyat sangat lah penting. Salah satu upaya yang bisa dilakukan dengan membentuk desa wisata. Namun, jika desa wisata tersebut tidak memiliki inovasi yang berbeda dan tidak memiliki target pasar yang jelas. Tentunya, akan mudah sekali mengalami gulung tikar atau mandek.

Banyaknya desa wisata yang sudah berkembang, tentunya memperketat laju kompetisinya. Jika kita landasan hal tersebut pada logika Weberian, maka yang harus diperkuat adalah inovasi dari masyarakatnya. Jika hal tersebut tidak terwujud, sudah pasti mereka akan bangkrut atau gulung tikar. Meskipun hal tersebut dikelola oleh komunitas (kelompok).