Wirausaha Kerajinan Meubel Dari Drum Bekas Pertamina Di Gresik

CSRkita (12/11) – Sebagai perusahaan produsen pelumas nasional, PT Pertamina Lubricants turut berkontribusi terhadap pemeliharaan lingkungan baik pada lingkungan pabrik maupun ditengah masyarakat dimana perusahaan beroperasi.

Melalui Production Unit Gresik (PUG), PT Pertamina Lubricants menjalankan program Corporate Social Responsibility (CSR) dengan memanfaatkan drum bekas limbah non-B3 di pabrik menjadi mebel atau furnitur dengan nilai tambah dan daya saing tinggi. Hal tersebut diwujudkan dengan mengajak pemuda-pemuda anggota Karang Taruna Desa Pulopancikan sebagai mitra bisnis wirausaha mebel drum bekas. Langkah bersama tersebut diwujudkan melalui kehadiran usaha bernama Tunas Mandiri Furniture dengan sistem koperasi.

“Kemasan limbah drum non-B3 ini berasal dari ex-limbah additive non-B3 dan reject kemasan drum yang belum terkontaminasi oli. Kami berkomitmen untuk tidak mencemarkan lingkungan dan menghindari penimbunan drum bekas yang berlebih di pabrik. Dengan program kemitraan dengan anak-anak muda Karang Taruna Desa Pulopancikan, kami yakin drum tersebut dapat menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi dan sekaligus dapat membantu mengasah kreatifitas anak muda serta memberikan lapangan pekerjaan baru.” Ungkap Edwin Wijaya, Manager Production Unit Gresik PT Pertamina Lubricants.

Kini, Tunas Mandiri Furniture sudah memproduksi berbagai jenis mebel seperti kursi, sofa, meja dan lemari dengan sangat stylish. Mebel tersebut diberikan nama ENDUROSEAT yang diambil dari nama salah satu produk pelumas unggulan Pertamina khusus untuk sepeda motor. Selain untuk dijual ke masyarakat diwilayah sekitar, mebel ini juga berikan kepada bengkel-bengkel mitra binaan PT Pertamina Lubricants sebagai salah satu tools untuk meningkatkan awareness masyarakat tentang pelumas Enduro.

Mebel tersebut dapat memberikan kenyamanan konsumen saat menunggu servid kendaraan atau ganti oli. Tidak hanya untuk duduk saja, mebel pun dilengkapi dengan fitur-fitur unik seperti build-in kipas angin, tempat helm, tempat jaket, tas ataupun charging pod untuk handphone.

Berdasarkan hasil perhitungan jumlah limbah drum bekas non B3 yang dapat didaur ulang menjadi ENDUROSEAT sebanding dengan reduksi limbah sebesar 2,88 ton. Program pembuatan mebel dengan memanfaatkan drum bekas ini dilakukan bukan semata-mata dalam rangka memenuhi peraturan perundangan, namun bertujuan untuk menciptakan nilai tambah baik dalam hal reduksi timbulan limbah, reduksi biaya pengelolaan limbah drum maupun memberikan dampak positif kepada kebutuhan masyarakat melalui terbukanya lapangan usaha kerja baru.

Proses pengerjaan yang dilakukan memakan waktu 2 minggu dimulai dari pemotongan, pengelasan, dan finishing. Finishing menjadi penting karena sangat menentukan harga, baik dari pengecatannya maupun pemasangan sofa tempat duduk.

“Kami memandang bahwa limbah drum ini memiliki potensi yang sangat luar biasa sebagai peluang usaha. Disisi lain, keunikan dari meubel yang dapat diproduksi, memiliki nilai jual dan daya saing di pangsa pasar, terutama bagi para pengembang usaha cafe maupun restaurant. Karena saat ini, model meubel dari drum sangat digemari oleh para pengusaha cafe modern seperti saat ini. Selain itu, kami juga ikut serta dalam berbagai pameran yang diadakan di Gresik dan Surabaya untuk memamerkan hasil karya dari Tunas Mandiri Furniture.” lanjut Edwin Wijaya.

Target kedepan adalah memantabkan sistem marketing dan pemasaran, sehingga diharapkan mampu menembus pangsa pasar yang lebih luas. Seiring dengan hal tersebut, proses produksi juga bertambah. Disisi lain, seiring dengan jumlah produksi yang semakin bertambah, secara otomatis Tunas Mandiri Furniture akan melakukan penyerapan tenaga kerja bagi warga desa sekitar Pulopancikan yang masih menganggur. Setidaknya dapat menekan angka pengangguran di Desa Pulopancikan. Saat ini, sudah ada 4 pekerja muda dengan 3 orang pekerja sesuai dengan keahlian masing-masing pada las, potong drum dan finishing, sedangkan sebagian pada bagian pemasaran.

“Kami yakin dengan semakin maju usaha ini, maka pemuda lain akan tertarik dengan melihat prospek usahanya. Memang perlu waktu untuk merubah mindset, tapi kami mencoba secara perlahan untuk kemajuan mereka dan desa melalui usaha ini.”tutup Edwin.

 

Sumber : Press Release

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *