“Orang Baik Selalu Ketemu Orang Baik”

(CSRkita) Siapa yang tak kenal tokoh pembauran asal Sumatera Utara ini? Tidak hanya aktif melakukan gerakan pembauran lewat pendidikan, sosok yang satu ini juga dikenal sebagai orang yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan anak-anak dari keluarga miskin lewat Program Anak Asuh di sekolahnya. Sekolah yang dikelolanya di Medan, bahkan sudah berhasil menamatkan tidak kurang 2.000-an siswa berkat program anak asuh yang digagasnya.

Semuanya bermula pada tahun 1987. Tepat pada tanggal 25 Agustus 1987, pria yang akrab dipanggil Sofyan Tan ini mendirikan sebuah lembaga pendidikan, Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM). Gedung sekolahnya berada di atas sepetak tanah yang terselip di ujung sebuah gang kecil. Namanya Gang Bakul, di Kelurahan Sunggal, Medan Sunggal. Gedung sekolah tersebut berdiri di atas tanah sawah yang sudah tidak digunakan lagi. Sawah itu dibeli dari hasil penjualan perhiasan milik istrinya. Perhiasan hadiah dari pernikahan mereka.

Sofyan Tan membangun sekolah itu dengan tujuan memajukan dan mengembangkan pendidikan anak-anak kurang mampu. Azas yang mewarnai praktek pendidikan di sekolah itu multikulturalisme. Lewat lembaga pendidikan tersebut, pria kelahiran 25 September 1959 ini mengikis paham mayoritas dan minoritas dalam mengelola pendidikannya, yang terentang mulai Play Group, TK, SD, SMP dan SMA/SMK. Tak heran di sekolahnya, siswa dari etnis Tionghoa, Melayu, Batak, Jawa, Nias, Aceh, India dan suku lainnya berbaur bersama tanpa rasa canggung.

Tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan mengelola praktek pendidikan multikultural. Pria berpendidikan dokter ini menempuh jalan yang terjal dan berliku. Sofyan Tan yang bernama asli Tan Kim Yang ini sempat menuai anggapan miring. Tak sedikit juga orang Tionghoa yang mengucilkan dia. Ia dihina karena sudah sekolah dokter tinggi-tinggi, namun akhirnya hanya mengurusi orang miskin saja. Ada juga yang mencapnya sebagai pengkhianat karena sangkaan bahwa sekolah itu menganjurkan siswanya untuk kawin campur. Termasuk tuduhan mau mentransfer ilmu dagang ke orang di luar etnik Tionghoa. Namun semua tuduhan itu pada akhirnya tak terbukti.

Satu hari di tahun 1997, Sofyan Tan tercenung saat melihat beberapa siswa dan guru melakukan shalat di sekolah. Bukan shalatnya yang membuatnya tercenung, tapi tempat shalatnya berupa ruang guru yang sempit dan penuh lalu lalang orang. Pendeknya tidak laik dijadikan tempat beribadah. Kondisi tersebut diyakini membuat ibadah siswa dan guru tidak khusuk dan tidak nyaman. Berhari-hari bahkan berbulan-bulan Sofyan Tan memikirkan hal tersebut. Ada rasa bersalah tumbuh dalam dirinya. Berangkat dari peristiwa tersebut, Sofyan Tan menggagas untuk membangun rumah ibadah yang terintegrasi dengan lingkungan sekolah. Tentu saja saat itu keinginannya, kalau bisa, membangun seluruh rumah ibadah yang dipeluk siswa dan gurunya. Namun kendalanya adalah biaya. Akhirnya diputuskan membuat skala prioritas.

Mesjid adalah rumah ibadah pertama yang harus dibangun. Modal lalu digalang, tak hanya dari kantongnya, tapi juga dari siswa, guru dan para donator lintas agama dan suku. Tak berselang lama, mesjid pun berhasil dibangun pada tahun 1997. Namun usai mesjid dibangun, banyak pihak mempertanyakan keputusan Sofyan Tan membangun mesjid. Di kalangan warga Tionghoa, bahkan berkembang isu kalau Sofyan Tan dan keluarganya sudah memeluk Islam. Sekolah Sultan Iskandar Muda juga akan berubah menjadi sekolah islam. Namun Sofyan Tan dan keluarga sama sekali bergeming dengan isu tersebut.

Waktu terus berlalu, dan pada tahun 1999 muncul niat Sofyan Tan membangun gereja dan vihara untuk siswa dan guru yang beragama Kristen dan Budha. Tahun 2000 gereja dan vihara akhirnya selesai di bangun berdampingan dengan mesjid yang sudah ada sebelumnya. Namun niat baik belum tentu dipahami secara bijak oleh orang-orang yang berpikiran picik dan sempit. Saat gereja berdiri, muncul pula isu bahwa Sofyan Tan sudah keluar dari Islam dan memeluk agama Kristen. Begitu juga ketika pembangunan Wihara selesai, Sofyan Tan dianggap sudah bertobat dan kembali memeluk Budha.

Semua isu dan rumor itu menurutnya bagian dari resiko yang harus dijalani demi mewujudkan cita-cita kehidupan masyarakat agar bisa hidup berdampingan secara damai dalam perbedaan yang ada.

Perjuangan dan perjalanan panjang Sofyan Tan dalam membangun dan memajukan tatanan masyarakat yang menghargai keberagaman dan non diskriminatif lewat pendidikan, membuatnya diganjar sejumlah anugerah dan penghargaan. Ia antara lain terpilih sebagai Ashoka Inovator for Public yang berkedudukan di Washington DC, USA, karena dia dianggap telah mampu melakukan inovasi dalam menjembatani hubungan antar suku, agama, ras dan antar golongan melalui pendidikan pada tahun 1989. Menpora RI memilihnya sebagai Pemuda Pelopor Pembangunan Bidang Kesetiakawanan Sosial dari Menteri Pemuda dan Olahraga tahun 1990. Lalu Guberur SumaUtara menganugerahi Anugerah Wiyata Mandala bidang pendidikan tahun 2002. Tahun 2007, Sofyan Tan terpilih sebagai penerima Penghargaan Danamon Award tahun 2007.

Pada Juni 2014, Perguruan Sultan Iskandar Muda mendapatan anugerah Maarif Award Jakarta. Tim juri Maarif award menilai bahwa proses pendidikan di Perguruan Sultan Iskandar Muda telah menyumbang runtuhnya segregasi etnis dan menghapus stereotip yang berkembang diantara peserta didik yang plural. Sedangkan pendekatan subsidi silang pembiayaan sekolah dari yang mampu kepada yang tidak mampu berperan penting mengikis kecemburuan sosial dan kebencian akibat kesenjangan ekonomi. Pada tahun yang sama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI memberikan penghargaan anugerah Peduli Pendidikan kepada Perguruan Sultan Iskandar Muda karena YP SIM dinilai memberikan pendidikan berkualitas tanpa membedakan status social dan ekonomi peserta didik.

Tidak berhenti disitu, sembari melakukan perjuangan membangun masyarakat anti diskriminasi secara berkesinambungan, Sofyan Tan juga terlibat dalam kegiatan kemanusiaan dan penyelamatan lingkungan. Bersama aktivis lingkungan lain, ia mendirikan dan menjadi Ketua Yayasan Ekosistem Leuser (YEL). YEL aktif melakukan konservasi Hutan Leuser dan Orang Utan Sumatera.
Awal tahun 2000-an, Sofyan Tan mulai terjun ke kancah politik praktis. Tahun 2004 ia mencalonkan diri sebagai Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Sayang waktu itu ia belum berhasil. Namun sejak itu namanya mulai dikenal dan diingat masyarakat. Lalu pada tahun 2010 ia maju dalam Pilkada Kota Medan. Bersama pasangannya Nelly Aremayanti, mereka berhasil masuk putaran kedua. Namun isu SARA yang berhembus kencang, membuatnya kalah dalam pemungutan pada putaran kedua.

Semua kekalahan itu tidak serta merta membuatnya berkecil hari. Ia selalu memetik hikmah dan pembelajaran dalam setiap menghadapi masalah dalam hidupnya. Pada tahun 2009 Sofyan Tan bergabung dengan salah satu partai politik. Tak tanggung-tanggung, bahkan Ketua Umum partai tersebut mendesak Sofyan Tan untuk maju menjadi calon legislatif (caleg) DPR RI pada Pemilu 2014..
Sofyan Tan sadar, ia butuh dana yang tidak sedikit untuk mendukung pencalonannya sebagai caleg DPR RI. Sementara saat itu dana yang dimiliki keluarga terbatas. Namun kondisi itu tidak membuat dirinya kecut dan kecil hati. Tidak ada kata dan kalimat pesimistis terlintas dalam benaknya.

Sofyan lalu minta masukan dan saran dari keluarga, kerabat dan sahabat yang berjejaring selama ini. Atas dorongan mereka, akhirnya Ayah empat anak ini memutuskan maju dan mendaftarkan dirinya ke KPU sebagai calon legislatif DPR RI.

Beberapa waktu kemudian Sofyan Tan betul-betul kewalahan. Dana yang ada sama sekali tidak menutupi operasional pemasangan iklan di media massa dan biaya lain-lain. Tiba-tiba, tanpa diduga, seorang relawan muncul dan hadir ditengah kegelisahan yang ada. Sang relawan yang merupakan salah satu orang tua asuh siswa di sekolahnya bersedia memberikan pinjaman uang untuk digunakan Sofyan Tan sebagai dana operasional. Tentu saja hal tersebut membuat Sofyan Tan selalu terharu.

Berkat dukungan dari partai dan ketua umum partai yang mengusungnya, tentu juga serta ridho dari Tuhan Yang Maha Esa, Pendiri Yayasan Sultan Iskandar Muda ini berhasil meraih suara terbanyak di Dapilnya, yakni Dapil Sumut 1. “Masyarakat Sumatera Utara sangat menjunjung tinggi nilai pluralisme. Oleh karena itu, kemenangan dengan raihan suara terbanyak tersebut merupakan kemenangan masyarakat Sumatera Utara” tegasnya.

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *