Membangun Bangsa Melalui Program CSR

Oleh : Azizon Nurza

Hanya dunia usaha yang peduli yang bisa tetap eksis diera sekarang ini. Ungkapan ini perlu dipahami oleh dunia usaha yang masih menutup mata dan membangun tembok tinggi dengan masyarakat yang ada disekitarnya. Disisi lain perbincangan ini juga ingin mengirimkan massage kepada dunia usaha yang masih setengah hati dalam melakukan kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR)-nya. Hal ini berpijak pada realitas yang ada, dimana masih ada dunia usaha yang melakukan Program CSR setengah hati, bersifat insidentil atau hanya sekedar merespon permintaan `ataupun keterpaksaan.

Berbagai kasus yang dihadapi dunia usaha yang tidak peduli dan membangun jarak dengan masyarakat seharusnya menjadi pelajaran dan renungan. Tidak sedikit investasi yang ditanam terbuang percuma karena berkonflik panjang dengan masyarakat. Ada juga dunia usaha yang harus mengeluarkan banyak biaya untuk menangani berbagai konflik dengan masyarakat dan saat gagal akhir nya harus stop beroperasi.

Terbangunnya hubungan yang harmonis antara dunia usaha dan masyarakat adalah investasi untuk jangka panjang. Konsep social investment dalam upaya menjaga kelancaran operasional dan keberlangsungan usaha patut dicermati. Dalam bahasa sederhana bisa tergambar melalui sebuah slogan, “Tumbuh, maju dan berkembang bersama masyarakat”.

Konsep ini berangkat dari sebuah kesepahaman bahwa dunia usaha dituntut tidak hanya mematuhi aturan social (perundang-undangan) yang ada, tetapi juga diharapkan mulai menajamkan aspek moral dalam pengambilan keputusan. Meskipun pajak yang ditarik selama ini menjadi sumber bagi kesejahteraan social, tapi dinilai itu belum cukup. Terkurasnya sumber daya dukung lingkungan akibat kegiatan eksploitasi merupakan fakta bahwa tanggung jawab dunia usaha belum cukup terpenuhi jika hanya diukur dari keharusan membayar pajak kepada Negara.

Jika kita bedah lebih dalam, sumbangan social perusahaan dapat dibagi atas dua kelompok. Pertama charity yaitu memberikan bantuan untuk kebutuhan yang sifatnya sesaat atau disebut juga “pemadam kebakaran”. Kedua filantropi yaitu sumbangan yang ditujukan untuk kegiatan investasi social atau kegiatan yang diarahkan pada penguatan peluang ekonomi dalam upaya memberdayakan masyarakat untuk mengatasi masalah yang ada disekitar lingkup kehidupannya.

Konsep sumbangan filantropi ini membutuhkan komitmen dan keseriusan sebab memerlukan program yang jelas (sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan berdasarkan potensi daerah binaan), sumberdaya manusia yang cukup (pendamping program), dana program yang memadai serta dilakukan dengan melakukan pendekatan dan berinteraksi langsung dengan masyarakat. Konsep ini lebih menitik beratkan pada kebutuhan masyarakat bukan pada keingininannya, disisi lain dibutuhkan pengelolaan yang sistematis dan terencana.

Kurang seriusnya sebagian dunia usaha dalam  pelaksanaan CSR Program, terkait erat dengan masih rendahnya kesadaran dan pemahaman terhadap corporate social responsibility (tanggungjawab social perusahaan). Masih melekat prinsif bahwa aktifitas yang dijalankan hanya untuk bisnis, yang cukup terkenal dengan istilah, “business of the business is business”, sehingga aktifitas social dianggap bukan menjadi tanggungjawabnya.

Tanggungjawab sosial sebagai peran yang harus diemban oleh dunia usaha, baru popular beberapa waktu bekangan ini di Indonesia. Peran yang lebih besar adalah upaya bagaimana perusahaan memperoleh keuntungan sebesar-besarnya.

Sebagaimana kita maklumi bersama, tanggungjawab membangun bangsa bukan hanya berada dipundak pemerintah saja, tetapi tanggungjawab setiap anak bangsa yang mana dunia usaha termasuk didalamnya. Sebuah hal yang wajar jika kepada dunia usaha diberikan tuntutan yang lebih dibanding kelompok masyarakat lainnya. Sebab dunia usaha melakukan kegiatan dengan menguasai dan mengelola berbagai sumberdaya yang akan merubah kualitas hidup dan lingkungan, disisi lain dunia usaha perlu membangun hubungan yang baik dengan stakeholder untuk mendukung kelancaran operasional perusahaannya.

 

Azizon Nurza, S.Pi, MM, seorang praktisi CSR yang sudah hampir 20 tahun bergelut membina masyarakat dan pernah berkarir sebagai pimpinan CSR di industri forestry, pulp & paper, oil & gas dan saat ini menjabat CSR & Corcomm Manager didua perusahaan tambang batubara yang beroperasi di Provinsi Aceh

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *